Langsung ke konten utama

Postingan

Undangan dalam Secangkir Kopi

Aku tidak peduli pada malam itu. Tidak peduli harus ke mana.Aku tinggalkan semua keramaian. Aku cukup lelah mengikuti alur kehidupan yang terus mengalir biasa saja. Ini membosankan. Bahkan tidak ada yang lebih hidup daripada sekadar raga ini. Ide-ide tumbang di ujung pikiran. Motivasi pergi menyita segala jiwa. Aku enggan lagi seperti ini.Lelah. Malam ini aku rindu merapatkan tubuh kepada sepiku. Memilih menidurkannya pada kesendirian. Bertahan pada kesenyapan tanpa sayap-sayap dan cuap-cuap. Aku ingin jauh dari riuh. Malam ini saja akan kutimang semua gundah dalam dada.“Semoga kautak kesepian,” hatiku bergumam demikian.Aku melangkah dengan gontai meninggalkan perapian pusat pikiranku. Berjalan dengan memutar haluan, entah ke mana. Diri ini sadar telah hilang kendali oleh diri sendiri. Demikian, aku tidak pernah ingin berhenti berjalan. Bagaimanapun, kelak di manapun, akan kutemukan sebuah titik balik pada diri ini. Aku tidak akan berhenti, bahkan jika perapian itu membakar habis selu…
Postingan terbaru

Sua Mata

Malam nanti tidak perlu ngigau untuk menyebut namaku,
Kecuali, demikian:
Kita menyebutnya bersama-sama
Tanpa kata,
Tapi dengan mata.
Kalau tidak keberatan, mari rebahkan kepalamu,

Selamat malam

Tidurnya Matahari

Matahari belum nampak pagi ini
Mungkin masih terjaga; sebentar lagi
Jika demikian sampai petang,
Aku senang
Kita tidak akan diganggu bayang-bayang yang terus menuntut ikut
Jadi, hanya kita saja
Kamu dan aku

Sepakat

Kita telah berkali-kali membicarakan tentang perasaan ini. Perasaan yang tidak ingin pernah kita tuntaskan. Tapi semuanya menyerah ketika perselisihan dan pertengkaran datang terus-menerus menjemput kebahagiaan. Ketakutan mulai merayapi hati yang rapuh, bahkan tidak peduli lagi apabila benar-benar patah dan terjatuh. Bagian yang paling menyakitkan memang bukan perkara perpisahan yang akan terjadi, karena itu adalah resiko dari segala pertemuan—dan kita menyepakatinya. Tetapi, bagaimana menyikapi segala hal yang terpaksa berkesudahan. Bukankah di antara kita sepakat untuk menolak terpaksa?
Nanti, jika segala resah menguliti kerinduan kita, ada baiknya kamu tak perlu membumbuinya. Biarkan saja seperti itu, barangkali itulah rasa sesungguhnya yang hinggap di antara kita, rasa yang kita cicipi dan memaksa untuk memahami maksud semesta. Bukankah di antara kita lebih suka segala yang hambar? Seperti ini, bahkan kita tak pernah bisa menikmati rasa apa dalam hubungan ini. Karena, lagi, kita …

Langit dan Tariannya

Hal yang paling indah adalah ketika menari di bawah kaki langit. Mengintip setiap gerakan dari irama dan getar gemuruh. Gendang telinga dimanjakan oleh alunan angin dan semburat awan dengan tegas tergurat di ambang cakrawala, menitipkan pesan pada siapapun yang ingin terbang dan bebas melampaui dunia. Tanpa batas, segala hamparan lautan biru adalah milikmu; katanya. Pergilah. Tak perlu malu, karena itu adalah pertunjukanmu.

Menyetubuhi Hati

Balada telah sampai pada ujung waktu. Tentang kisah panjang malam ini dan rasamu yang telah menyetubuhi hati ini. Tidak perlu bertanya bagaimana, semua luka sudah pasrah rebah mendekam dan bungkam.
Ia merenggut, mengubahnya menjadi elegi. Tidak dipatahkan, tetapi dicabik oleh seluruh gimik. Dihanyutkan dan dibungkam.
Apa kabar hati ini? Dimintai pertanggungjawaban tentang siapa—siapa yang bertanggung jawab; perihal luka yang akan ditanggung sendirian. Anak rindu akan lahir, jika dibiarkan semakin lebam dan jika dipaksa gugur ada sakit yang mendalam.
Lagi, rindumu bergerak mengusap lembut setiap inci—setiap ruang yang resah. Membawa keadaan menjadi semakin gundah. Aral dan semua punuk lelah membuncah di kesepian, akankah mampu bertahan lama demi menunggu sebuah kepastian?
Ketika menanti kepulanganmu dengan cemas, sekujur tubuh berdarah dan lemas. Sepersekian detik, dan aku telah mati menari di batas hampa. Tersungkur dalam keabadian dengan sepenggal dendam yang kutenggelamkan dalam-da…