Senin, 16 April 2018

URGENSI KADERISASI

(14/04) Dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas generasi cerdas, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Jakarta kembali mengadakan Pelatihan Kepemimpinan Fakultas MIPA. Acara dengan tema "Kreatif, Inisiatif, Aktif" secara bertahap yang mulai dilaksanakn mulai pukul 12.30-17.20 WIB bertempat di ruang 203-204 Gedung Hasyim Asy'arie dan dipandu oleh Mahbub Al-Haqi sebagai MC.

Rangkaian acara demi acara dilaksanakan dan sampailah pada  jantung acara, yaitu pemaparan materi "Urgensi Kaderisasi" yang dimoderatori oleh M. Rifani Susanto. Pemateri merupakan seorang yang dapat dikatakan berperan dalam pengkaderan sekaligus merupakan Kadiv Kaderisasi, Dept. Dalam Negeri BEM UNJ 2018, Solih Nurdin.

Menjadi bagian perjuangan dalam organisasi, tidak terlepas dari sebuah perwujudan kaderisasi. Berbicara kaderisasi merupakan pokok utama yang harus terus diungkap. Menurut  KBBI kaderisasi merupakan proses, cara, pembuatan mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader. Sedangkan kader merupakan orang yang akan diharapkan untuk memegang peran penting dalam pemerintahan, intitusi dan organisasi. Pemateri memfokuskan tujuan kaderisasi, yakni pembentukan, penjagaan, peningkatan kualitas serta pewarisan. Sedangkan, fungsi agenda pengaderan sangat erat kaitannya dengan 4 fokus kaderisasi itu sendiri adalah pewarisan nilai organisasi, penjamin keberlangsungan organisasi dan sarana belajar bagi anggota merupakan inti dari fungsi agenda pengadera. Lalu, akankah semuanya tercapai?

Tidaklah mudah menjadi bagian dari sebuah perjuangan, tidak hanya mampu mengkader sebuah organisasi, tetapi yang paling penting adalah mampu mengkader diri sendiri. Kaderisasi merupakan suatu kebutuhan internal yang harus dilakukan demi kelangsungan organisasi. Seperti hukum alam akan adanya suatu siklus, dimana semua proses pasti akan terus berulang dan terus berganti. Namun satu yang perlu kita pikirkan, yaitu format dan mekanisme yang komprehensif dan mapan, guna memunculkan kader-kader yang tidak hanya mempunyai kemampuan di bidang manajemen organisasi, tapi yang lebih penting adalah tetap berpegang pada komitmen sosial dengan segala dimensinya. Salah satu fungsi kaderisasi adalah agar kita tidak meninggalkan keturunan yang lemah, agar kita tidak menjadikan keturunan atau penerus kita menjadi orang-orang yang tidak kompeten dan tidak bisa apa apa.

Lalu beliau juga menyampaikan bahwa ada beberapa tugas kaderisasi, yaitu pembentukan, pengembangan, penjagaan, pewarisan. Semua tugas kaderisasi ini harus berjalan beriringan agar terbentuk kader yang lebih baik, serta tidak menjadikan sebuah kader menjadi penerus yang lemah. Meskipun pada ekspektasi dan realita sungguhlah berbeda. Pada era digital semakin berkembangnya teknologi, tidak pula menambah perkembangan kaderisasi, "justru saat ini SDM yang melimpah tiap tahunnya tidak menjadikan kader-kader penerus bertambah pesat pula, melainkan sebaliknya, SDM yang banyak tetapi kader yang mumpuni semakin sedikit, hal ini disebabkan karena beberapa hal, misalnya acara pengkaderan terlalu monoton/ tidk peka dengan perkembangan zaman, para kader sebelumnya belum bisa memberikan pengkaderan dan kuantitas kader/ kritis kader".

Maka, menjadi bagian dari kaderisasi merupakan suatu kebutuhan. Di Universitas Negeri Jakarta bisa dimulai dari PKMP atau Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Tingkat Prodi, berlanjut pada PKMF atau PLMF yaitu pelatihan kepemimpinan dan legislatif mahasiswa tingkaf fakultas, keduanya diambil sesuai dengan minat para kader, dan berlanjut menuju tingkat universitas.

Pemaparan materi yang cukup menggugah dan menarik minat para peserta, pada penghujung pemaparan materi, banyak peserta yang antusias bertanya. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembagian kelompok, Temu Fasil tiap kelompok PKMF MIPA serta pemaparan tugas yang diberikan oleh panitia. Lalu acara dilanjutkan kembali dengan penutupan, serta pembacaan doa yang dibawakan oleh salah satu perwakilan peserta.

Jumat, 16 Maret 2018

Tubuh Sendiri

Kupeluk tubuh sendiri, pada malam gundah jatuh merebah. Semoga dari jauh, rasamu peka atas logikaku yang mulai runtuh dipeluk tubuh. Sebab rusuk telah kalah ditusuk bujuk. Hebat sekali, gurindam berbicara seolah tau segalanya. Kata-kata klise yang tak pantas diucapkan di antara tepian dan kanal kerinduan. Aku dan kamu.

Hujan jatuh menembus kelopak mata, dibuahi buih nestapa. Menarilah, diri untuk segelas kopi—dingin jika dibiarkan di udara terbuka dan hangat jika segera kautenggak. Gigit saja pahitnya, biar gusar biarlah dihajar. Sesak dalam dada atau luka hidup, kenangan dingin tempo lalu. Bunuh saja yang ada!

Kamis, 15 Februari 2018

Aku Mau

Apiku padam
Dijilat musuh
Tercabik juta caci
Terjun di kesunyian
Aku, 
Gusar dan dendam
Ruh riuh
Di atas kesunyian,
Kaumenari
Diseduh rindu—aku mau

Tidak Kamu

Tidak kamu,
Tidak bulan,
Tidak malam,
Tidak bintang.


Dirajai sepi
Ditikam sunyi, 
kelu menari sendiri
Meratap marah, tajam murka
Tidak kamu, jera

Siapa,
Dikungkung
Tertawa jatuh,
Tersiksa belenggu, 
Pilu dan sembilu
Tidak kamu, 
Tapi aku.

Sabtu, 20 Januari 2018

Mengulang Hilang

Sabit jatuh pada kaki langit, mengistirahatkan sinarnya kepada bumi. Sedang kamu enggan menatap satu purnama utuh di depanmu—diriku. Perihal kesepakatan hubungan yang kauputuskan secara sepihak, aku pasrah. Aku siap mendengar semua kelakar yang menjauhkanku dari hangat dulu-dulu yang menjalar.

Membicarakanmu sama saja mengulang hilang. Bagiku hilang, entah bagimu. Hilang yang muncul tiba-tiba. Dengan langkah patah-patah dan luka hati yang basah, aku memutar haluan darimu. Senyum tipis kubiarkan mengalir sebagai hadiah terakhir. Tidak perlu air mata, sebab kata-katamu tengah malam sudah menguras semua energiku. Uratku mengendur, pertanda sudah lelah dengan segala.

Aku, ingin mundur saja.

Kamis, 18 Januari 2018

Menjadi Tamu di Beranda Matamu

Hanya tiga menit.

Malam ini izinkan aku menitipkan segala rinduku di matamu. Aku tak punya pilihan ke mana langkah selanjutnya, selain menjadi tamu di beranda matamu; sungguh, sejenak saja sebelum singgahku benar-benar jauh. Jika kautahu, aku sungguh ingin menetap di matamu. Di sana akan banyak kutemukan keteduhan, aku tak perlu khawatir mengenai rindu yang kutitipkan, sebab ia sudah tak kedinginan di tepi jalan. Riuhku runtuh dan lelahku akan padam menyeluruh. Atau kauboleh merebahkannya di dadamu yang awah, tak apa, asal ia bersamamu.

Untuk tiga puluh detik terakhir: kelak, suatu hari nanti; di matamu aku ingin kembali tinggal. Bersamamu, menjadi puan dalam matamu. Bukan untuk menjemput rindu-rinduku, tapi memagut rindu bersamamu. 

Sungguh.

Beranjak

Tidak perlu pamit dan berterima kasih, sebab untuk kesekian kali, aku benar-benar mengerti, pergimu yang tanpa permisi adalah salah yang selalu kubenarkan berkali-kali. Maka kuputuskan, ada yang ingin kutanggalkan satu per satu, sebelum gagal benar-benar menguasai. Kautahu itu apa, sebab ini perihal usaha menjadi tunggal setelah ditinggal. Pun kautidak perlu kembali, sebab aku benar-benar ingin pulih. Maka kuputuskan, beranjak kembali adalah cara terbaik meredam patah hati. Sendiri.

Minggu, 14 Januari 2018

Pukul Tujuh

Aku ingin secangkir kopi malam ini, tidak terlalu pekat dan pahit.
Jika kaubersedia, datanglah. Dengan begitu aku tidak perlu tambahan gula, sebab kaudatang sebagai pemecah sendu dan penawar pahitnya rindu.

Kutunggu pukul tujuh nanti.

Memilih Kesendirian

Malam ini hampir sempurna, tidak dengan kamu, tapi dengan seutuh sepiku. Aku menyukai kesendirian, pada kesendirian aku bisa memeluk diri sendiri. Aku lebih padam dari rindu yang selalu melukai. Tidak lagi kacau, aku selalu pulang dan rebah pada dada sendiri, tak apa, sebab aku tidak akan pernah lupa jalan pulang: kautak perlu risau: dalam dadaku—palung—aku melihatmu menungguku untuk mengetuk pintu, aku akan kembali.

Selasa, 05 Desember 2017

Turisku

Terima kasih telah menjadi pelancong tempat terusang untukku. Aku tahu; memang sudah selayaknya seluruh memori runtuh dan menjadi pinak rindu. Teruntukku, semoga separuh ini tak lagi membelenggu sebagai sembilu.

Dan..

Terima kasih telah menjadikanku sebagai anjangsana rindumu. Sepatutnya kau tak menggamit kosongku, sebab seluruh purnamamu telah utuh memecah sunyiku: lakumu tualang baru dalam hidupku. Selamat menikmati gemuruh dan debarku, turisku.

Pulang

Aku ingin pulang, sendiri saja seperti angin yang enggan berhenti. Sebab berjalan pada keramaian tanpa jamahan kasih, kau tau itu menyakitkan, sayang. Maka, biarlah segenap malam menguliti rindumu dengan kaku. Agar kamu tahu, sepotong hati tidak akan pernah mampu menjadi satu begitu saja tanpa peduli. Dan aku telah ringkih, terlalu perih.

Rumput Malam

Aku tak lebih dari rumput malam yang bergoyang; malam sendu menggiring sebuah tanya kepada secercah pendar lampu. Bertanya melalui hati; aku bisa melihat cahaya itu semakin dalam. Aku dan kamu—kita, tidak lebih dari sekadar rumput hijau di taman, berpijak dan terjejaki. Berdua. Kita berdansa dihujani harap di bawah kaki langit. Selepas angin menghampiri tubuh—kita terhuyung di bawah lembayung— sebagai pemburu hati, aku menikmatinya. Sebab kita saling jatuh pada pelukan yang telah kunamai rindu; saat ini.

Minggu, 26 November 2017

Lantas, Akan Apa?

Kupadatkan seisi kepalaku
jutaan gelebah mencecah
membersamai rindu,
dan kita hanya mematung
saling menghadap.

Lantas, akan apa?

Sabtu, 25 November 2017

Haruskah Aku Berpura-pura Tuli?

Ini menyakitkan: serupa kisah patah hati yang bahagianya hanya bergulir dalam mimpi.


Secangkir teh sudah menunggu sejak setengah jam yang lalu, menunggu tuannya. Secangkir teh lain sudah habis, menunggu dituangkan kembali oleh pemiliknya. Seratus empat puluh satu menit sejak senja membenamkan dirinya, ada yang masih setia menunggu berjam-jam. Sampai tepat menit keseratus lima puluh, dirinya memutuskan pergi. Air mukanya tidak menunjukkan penyesalan, bahkan sama sekali tak ada rasa. Seperti dirinya sudah mati rasa.


"Tunggu," ada yang menarik lengannya, ia berhenti. "sebentar saja untuk kali ini," ada yang memohon, hatinya bergetar melemah.


Kamu bercerita soal dirimu dan keseharianmu, sementara aku tidak terlibat percakapan sama sekali, yang aku lakukan adalah terus menatapmu. Bergumam kagum. Nampaknya keseharianmu seperti sudah lebih indah dari keseharianmu dahulu. Aku turut gembira. Lantas, apa yang harus aku tunjukkan kepadamu? Karena kali ini aku sudah tidak mampu lagi berunjuk aksi, hanya berunjuk gigi. Karena semua sudah berbeda. Aku bukan diriku yang dulu, tapi kamu masih sama seperti dahulu.


Kamu menggenggam tanganku, dan berbicara dengan tegas bahwa dirimu masih menyayangiku. Kamu rindukan kita. Begitupun aku. Matamu begitu berbinar-binar, sial! Kita berpamitan mungkin untuk perpisahan. Sungguh aku ingin memelukmu, mengecup bibirmu, menggenggam erat tanganmu. Seketika itu benar terjadi. Sebelum dirimu pergi, kaumemulainya, mengabulkan permohonan yang tidak kuungkapkan. Hatiku terketuk! Kau menatapku sangat lama, kita mematung. Lalu kemudian kaumemelukku kembali seolah tidak ingin ada yang hilang, lama sekali. Oh Tuhan, aku masih menyayanginya!


"Ram.." dirinya mencoba melepaskan pelukan itu. Tapi, tidak ada jawaban. Rama tetap memeluknya. Hingga malam lelah, sebuah hangat hanya menjelma dalam mimpi sampai pagi. 


Dan setiap alarm pagiku berbunyi, sunyiku selalu bernyanyi. Haruskah aku berpura-pura tuli?

Rabu, 22 November 2017

Pernahkah?

Pernahkah kamu merasa kesepian di tengah lalu lalang orang yang kamu kenal? Jiwa kamu seperti melayang entah berada di mana, sementara hanya ragamu yang di tempat.

Pernahkah kamu merasa sangat sedih suatu saat? Ketika sebenarnya banyak orang di sampingmu yang bersedia menemanimu.

Pernahkah kamu berharap, tapi pada kenyataannya hanya harapan kosong yang kamu dapat?

Pernahkah mempedulikan orang yang kamu anggap sebagai keluarga, tapi apakah mereka menganggapmu seperti keluarga?

Pernahkah kamu berpura-pura tersenyum untuk orang yang kamu sayangi? Sedang hati tidak baik.

Pernahkah kamu merasa bahagia memiliki banyak teman? Tapi nyatanya kamu tahu itu bukan definisi bahagia yang sebenarnya.

Pernahkah kamu ingin berhijrah? Tapi hanya sebatas pernah dan belum terealisasi dengan baik, kembali pada titik terburuk, lalu beranjak kembali. Up and down.

Pernahkah kamu jatuh dan kembali bangkit seorang diri tanpa belas kasih apalagi uluran tangan orang lain?

Pernahkah kamu ingin mengungkap semua perasaanmu? Tapi, tidak ada tempat bersandar yang benar-benar merebahkan lelah, selainNya.

Pernahkah kamu berpikir yang paling tahu segala dari dirimu adalah kamu, tapi sebenarnya tidak. Ada maha pemilik segala.

Dan pernahkah kamu berproses dengan hasil yang tak sebanding? Sedang jiwa kamu telah lelah lama bertarung, dan kamu hampir menyerah dan kalah dengan keadaan.

Pernahkah?

Aku iya.

Rabu, 13 September 2017

Terbunuh

Ingat bagaimana perjalanan panjang yang mengekang kepulangan kala itu? Setapak demi setapak, jejak begitu nyata—yang tersisa ampas rindu, kerap kali terseduh waktu. Aromanya begitu pahit, telak memberi sakit— dan masih ingat persimpangan mana yang dilalui? Ada lambaian tangan yang melambung di udara dan menyisakan hampa, menggantung tanpa suara. Sampai memori itu runtuh, ada jiwa yang berdiri melepuh di antara riuh. Kosong, tak lagi utuh. Terbunuh.


—Persimpangan Terjauh

Ingin

Lelah.
Malam ini aku rindu merapatkan tubuh kepada sepiku.
Memilih menidurkannya pada kesendirian.
Bertahan pada kesenyapan tanpa sayap-sayap dan cuap-cuap.
Tubuh ini ingin jauh dari riuh.
Malam ini saja akan kutimang semua gundah dalam dada.



"Semoga kautak kesepian."

Sabtu, 09 September 2017

Bangku Taman

Sebut saja sebagai bangku taman, aku asing dijejaki puluhan langkah antah berantah. Kecuali kamu, berlalu lalang datang-pergi.

Aku memilih diam. Disinggahi hanya sepersekian waktu. Tak apa. Barangkali lampu taman bersedia tetap hidup, tapi itu tak cukup untuk hidupkan jiwamu yang redup.

Kamu benar, katamu menegaskan, “jalan yang sedang kausinggahi akan berakhir menjadi rinduku”.

Aku meneduhkan risauku dan menahan luka jatuh dari pelupuk: terakhir kali, di simpang jalan tubuh tegap kalap oleh gelap. Lampu taman meremukkan pendarnya, langkahmu mundur dan memutar haluan. Semesta tidak lagi mengizinkan sua, tapi meninggalkan bekas luka yang masih membekas jua.

“Aku pergi,"

Dan singgahmu hanya sebatas sementara, rindu itu bukan untuk aku. “Semoga kausegera menemukan jalanmu, agar tidak lagi menyinggahiku.”

Jumat, 04 Agustus 2017

Habiskan Waktu

Mungkin ini akan menjadi malam yang sangat panjang bagi kamu. Setelah berhari-hari menghabiskan waktu bersamanya, selepas itu tidak ada lagi dirinya. Bukan salah siapapun, dia atau kamu. Jangan pula salahkan kisah, karena kenyatannya kasih memang selalu tak sampai. Kamu terlalu membebaskannya, sampai seluruhnya lepas dan hempas. Hanya tersisa ampas-ampas kenangan, yang ada tinggal bias masa lalu.

Mungkin bagi kamu memang harus seperti ini, karena memang tidak ada ikatan di antara kalian. Tapi baginya, menyakitkan jika hanya menjadi alasan terus bertahan tanpa sebuah ikatan. Betul, jangan memaksa. Jangan pula menyesal, karena kamu sudah terlanjur jujur merelakannya.

Dan ini adalah setangkai mawar terakhir kala itu, yang dibiarkan oleh pemiliknya. Ia mulai layu, memudar dan mati karena waktu. Serupa dengan kamu, yang membiarkan diri dibakar rindu; habis mati-matian menahan perasaan yang bahkan sampai detik ini harus direlakan atau dilepaskan. Bunga baru akan selalu kembali tumbuh di hari yang berbeda, lalu kemudian mati dan tumbuh kembali menjadi yang baru. Tapi lain hal, untuk luka yang terlanjur tersematkan sulit untuk ditamatkan.

Minggu, 30 April 2017

Sebuah Nama yang Kubiarkan Jatuh dalam Doa

Untuk yang pertama, yang menjarah perhatianku; menggusur segala gusar selama ini; menghempas ampas rasa yang tersisa dan merajutkanku hal-hal yang pantas kuabadikan dalam tulisan.

Kepada sosok yang pernah hadir dalam keseharianku, yang bahkan tanpa peduli telah merobek palang mimpi: kamu—sebuah nama yang kubiarkan jatuh dalam doa.

Ada sebuah nama yang kubiarkan jatuh dalam doa
Memintaku menyebutkannya hingga berkali-kali
Tanpa satu alasanpun yang dapat kumengerti
Bahkan tanpa peduli, ia telah merobek palang mimpi
Memberi banyak imaji: hari ini, esok dan nanti

Kamu datang dan kembali pulang pada seisi semestaku.
Merobek tirai yang membatasi segala ruang dan mengangkasakan segala aksaraku
Mengisi diari baru di bukuku. 
Hadirmu seolah memecah hening dan menjadi bening yang kurindu
Membantai segala jalan buntu dalam hidupku
Memberi secercah harapan cerah yang sempat abu
Lantas akan kauapakan anganku? 

 Sosok yang selalu abadi dalam sajakku, yang entah mengerti atau tidak. Jika inginmu bukan inginku, tetap saja inginku untuk mengabadikanmu menjadi inginku.