Langsung ke konten utama

Postingan

Elegi

Sepi dan sunyi telah lama mendiami tubuh. Riuh-riuh telah dilucutinya dari ruh. Dirampas seluruhnya, lalu redam padam muncul tak berkesudahan. Di tanggal itu, ada hati yang telah dipatahkan. Sengaja ditanggalkan. Dan tertinggal di keramaian.
Postingan terbaru

Patah Hati

Patah hati?
Untuk apa?
Jika patahnya hatimu dan patahannya dapat melukai dan memperparah semesta hatimu.
Masih ingin melukai hatimu?
Untuk apa?

Siapa?

Siapa yang peduli kepada sajak yang telah pulas tertidur, setelah puing kehancuran baru saja menindas pemiliknya yang ditinggalkan. Kau tak perlu sibuk membangunkannya, biarkan ia terjaga bahkan jika sampai purnama selesai melahap malam. Atau kau bisa menunggunya, itu jika kau peduli. Jika tidak, tinggalkan saja.
Bukankah yang peduli memang tak pernah tanggal dan meninggalkan dalam kesendirian?

Jantungku

Jantungku berhasil ranum di belahan tandus dan terabaikan. Bertahan dengan tabahnya bersama luka yang memilih pulang dan pulih. Sajak-sajak deras mengalir menderaikan tirai-tirai duka dan derak hati lantang ingin segera kembali. Biarlah jarak dan jejak menenangkan sunyi yang tega mencercah sudut tak bernyawa. Di antara sua dan mata yang berduka, jantungku ditinggal dan terlepas dari detaknya.
Di pusara, "aku akan kembali".

Ketika

Rona,jatuh dan tenggelam Ditertawai waktu dan logika Tersungkur!
Aksara terjun menentang
Derita,
Adalah tamu dan kamu
Riuh mencandu

Undangan dalam Secangkir Kopi

Aku tidak peduli pada malam itu. Tidak peduli harus ke mana.Aku tinggalkan semua keramaian. Aku cukup lelah mengikuti alur kehidupan yang terus mengalir biasa saja. Ini membosankan. Bahkan tidak ada yang lebih hidup daripada sekadar raga ini. Ide-ide tumbang di ujung pikiran. Motivasi pergi menyita segala jiwa. Aku enggan lagi seperti ini.Lelah. Malam ini aku rindu merapatkan tubuh kepada sepiku. Memilih menidurkannya pada kesendirian. Bertahan pada kesenyapan tanpa sayap-sayap dan cuap-cuap. Aku ingin jauh dari riuh. Malam ini saja akan kutimang semua gundah dalam dada.“Semoga kautak kesepian,” hatiku bergumam demikian.Aku melangkah dengan gontai meninggalkan perapian pusat pikiranku. Berjalan dengan memutar haluan, entah ke mana. Diri ini sadar telah hilang kendali oleh diri sendiri. Demikian, aku tidak pernah ingin berhenti berjalan. Bagaimanapun, kelak di manapun, akan kutemukan sebuah titik balik pada diri ini. Aku tidak akan berhenti, bahkan jika perapian itu membakar habis selu…

Sua Mata

Malam nanti tidak perlu ngigau untuk menyebut namaku,
Kecuali, demikian:
Kita menyebutnya bersama-sama
Tanpa kata,
Tapi dengan mata.
Kalau tidak keberatan, mari rebahkan kepalamu,

Selamat malam