Postingan

Turisku

Terima kasih telah menjadi pelancong tempat terusang untukku. Aku tahu; memang sudah selayaknya seluruh memori runtuh dan menjadi pinak rindu. Teruntukku, semoga separuh ini tak lagi membelenggu sebagai sembilu. Dan.. Terima kasih telah menjadikanku sebagai anjangsana rindumu. Sepatutnya kau tak menggamit kosongku, sebab seluruh purnamamu telah utuh memecah sunyiku: lakumu tualang baru dalam hidupku. Selamat menikmati gemuruh dan debarku, turisku.

Pulang

Aku ingin pulang, sendiri saja seperti angin yang enggan berhenti. Sebab berjalan pada keramaian tanpa jamahan kasih, kau tau itu menyakitkan, sayang. Maka, biarlah segenap malam menguliti rindumu dengan kaku. Agar kamu tahu, sepotong hati tidak akan pernah mampu menjadi satu begitu saja tanpa peduli. Dan aku telah ringkih, terlalu perih.

Rumput Malam

Aku tak lebih dari rumput malam yang bergoyang; malam sendu menggiring sebuah tanya kepada secercah pendar lampu. Bertanya melalui hati; aku bisa melihat cahaya itu semakin dalam. Aku dan kamu—kita, tidak lebih dari sekadar rumput hijau di taman, berpijak dan terjejaki. Berdua. Kita berdansa dihujani harap di bawah kaki langit. Selepas angin menghampiri tubuh—kita terhuyung di bawah lembayung— sebagai pemburu hati, aku menikmatinya. Sebab kita saling jatuh pada pelukan yang telah kunamai rindu; saat ini.

Lantas, Akan Apa?

Kupadatkan seisi kepalaku jutaan gelebah mencecah membersamai rindu, dan kita hanya mematung saling menghadap. Lantas, akan apa?

Haruskah Aku Berpura-pura Tuli?

Ini menyakitkan: serupa kisah patah hati yang bahagianya hanya bergulir dalam mimpi. Secangkir teh sudah menunggu sejak setengah jam yang lalu, menunggu tuannya. Secangkir teh lain sudah habis, menunggu dituangkan kembali oleh pemiliknya. Seratus empat puluh satu menit sejak senja membenamkan dirinya, ada yang masih setia menunggu berjam-jam. Sampai tepat menit keseratus lima puluh, dirinya memutuskan pergi. Air mukanya tidak menunjukkan penyesalan, bahkan sama sekali tak ada rasa. Seperti dirinya sudah mati rasa. "Tunggu," ada yang menarik lengannya, ia berhenti. "sebentar saja untuk kali ini," ada yang memohon, hatinya bergetar melemah. Kamu bercerita soal dirimu dan keseharianmu, sementara aku tidak terlibat percakapan sama sekali, yang aku lakukan adalah terus menatapmu. Bergumam kagum. Nampaknya keseharianmu seperti sudah lebih indah dari keseharianmu dahulu. Aku turut gembira. Lantas, apa yang harus aku tunjukkan kepadamu? Karena kali ini aku sud...

Pernahkah?

Pernahkah kamu merasa kesepian di tengah lalu lalang orang yang kamu kenal? Jiwa kamu seperti melayang entah berada di mana, sementara hanya ragamu yang di tempat. Pernahkah kamu merasa sangat sedih suatu saat? Ketika sebenarnya banyak orang di sampingmu yang bersedia menemanimu. Pernahkah kamu berharap, tapi pada kenyataannya hanya harapan kosong yang kamu dapat? Pernahkah mempedulikan orang yang kamu anggap sebagai keluarga, tapi apakah mereka menganggapmu seperti keluarga? Pernahkah kamu berpura-pura tersenyum untuk orang yang kamu sayangi? Sedang hati tidak baik. Pernahkah kamu merasa bahagia memiliki banyak teman? Tapi nyatanya kamu tahu itu bukan definisi bahagia yang sebenarnya. Pernahkah kamu ingin berhijrah? Tapi hanya sebatas pernah dan belum terealisasi dengan baik, kembali pada titik terburuk, lalu beranjak kembali. Up and down . Pernahkah kamu jatuh dan kembali bangkit seorang diri tanpa belas kasih apalagi uluran tangan orang lain? Pernahkah kamu ingin mengungkap ...

Terbunuh

Ingat bagaimana perjalanan panjang yang mengekang kepulangan kala itu? Setapak demi setapak, jejak begitu nyata—yang tersisa ampas rindu, kerap kali terseduh waktu. Aromanya begitu pahit, telak memberi sakit— dan masih ingat persimpangan mana yang dilalui? Ada lambaian tangan yang melambung di udara dan menyisakan hampa, menggantung tanpa suara. Sampai memori itu runtuh, ada jiwa yang berdiri melepuh di antara riuh. Kosong, tak lagi utuh. Terbunuh. —Persimpangan T erjauh

Ingin

Lelah. Malam ini aku rindu merapatkan tubuh kepada sepiku. Memilih menidurkannya pada kesendirian. Bertahan pada kesenyapan tanpa sayap-sayap dan cuap-cuap. Tubuh ini ingin jauh dari riuh. Malam ini saja akan kutimang semua gundah dalam dada. "Semoga kautak kesepian."

Bangku Taman

Sebut saja sebagai bangku taman, aku asing dijejaki puluhan langkah antah berantah. Kecuali kamu, berlalu lalang datang-pergi. Aku memilih diam. Disinggahi hanya sepersekian waktu. Tak apa. Barangkali lampu taman bersedia tetap hidup, tapi itu tak cukup untuk hidupkan jiwamu yang redup. Kamu benar, katamu menegaskan, “jalan yang sedang kausinggahi akan berakhir menjadi rinduku”. Aku meneduhkan risauku dan menahan luka jatuh dari pelupuk: terakhir kali, di simpang jalan tubuh tegap kalap oleh gelap. Lampu taman meremukkan pendarnya, langkahmu mundur dan memutar haluan. Semesta tidak lagi mengizinkan sua, tapi meninggalkan bekas luka yang masih membekas jua. “Aku pergi," Dan singgahmu hanya sebatas sementara, rindu itu bukan untuk aku. “Semoga kausegera menemukan jalanmu, agar tidak lagi menyinggahiku.”

Habiskan Waktu

Mungkin ini akan menjadi malam yang sangat panjang bagi kamu. Setelah berhari-hari menghabiskan waktu bersamanya, selepas itu tidak ada lagi dirinya. Bukan salah siapapun, dia atau kamu. Jangan pula salahkan kisah, karena kenyatannya kasih memang selalu tak sampai. Kamu terlalu membebaskannya, sampai seluruhnya lepas dan hempas. Hanya tersisa ampas-ampas kenangan, yang ada tinggal bias masa lalu. Mungkin bagi kamu memang harus seperti ini, karena memang tidak ada ikatan di antara kalian. Tapi baginya, menyakitkan jika hanya menjadi alasan terus bertahan tanpa sebuah ikatan. Betul, jangan memaksa. Jangan pula menyesal, karena kamu sudah terlanjur jujur merelakannya. Dan ini adalah setangkai mawar terakhir kala itu, yang dibiarkan oleh pemiliknya. Ia mulai layu, memudar dan mati karena waktu. Serupa dengan kamu, yang membiarkan diri dibakar rindu; habis mati-matian menahan perasaan yang bahkan sampai detik ini harus direlakan atau dilepaskan. Bunga baru akan selalu kembali tumbuh di ha...