Postingan

Menampilkan postingan dengan label Imaji

Dilamarmu

Aku mau menjadi wanitamu, yang selalu diajak makan berdua denganmu, walaupun di pinggir jalan memakan nasi goreng kesukaanku atau sate kesukaanmu. Aku mau menjadi wanitamu, yang setiap pagi menanyakan ingin makan apa. Lalu katamu, apapun makanannya— kalau yang membuatkanmu aku pasti suka. Aku mau menjadi wanitamu, yang memelukmu erat saat kau ingin rebah dari lelah. Lalu kusisipkan kecupan hangat di pipimu dan berkata "Aku selalu di sini". Aku mau menjadi wanitamu, yang bersedia mendengar semua keluh kesahmu juga bahagiamu. Telinga, raga, mata, hatiku selalu ada untukmu. Aku mau menjadi wanitamu, yang setiap kau berangkat kerja aku mencium tangan kekarmu; yang pulangnya membukakan dasi kemejamu lalu menyiapkan air hangat juga makan malam untukmu. Aku mau menjadi wanitamu, yang hangat rumah dan dingin amarahmu hanya aku yang rasa—juga tawa dan isakmu hanya aku yang tahu. Aku mau menjadi wanitamu yang pundakmu memang kausediakan hanya untukku, yang tanganmu hanya mengus...

Sepaket Sepakat

Sudah, ya. Jangan bertarung perihal merasa hebat. Bagaimana kalau kita mulai mengarung menjadi hebat bersama-sama? Sudah, ya. Redupkan sedihmu sekarang juga. Bagaimana kalau kita hidupkan lagi bahagia bersama-sama? Sudah, ya. Jangan ikut meluruh dalam lelahmu. Bagaimana kalau kita rebah sejenak dan meruntuhkannya bersama-sama? Sudah, ya. Jangan takutkan mimpi-mimpimu yang belum terwujud. Bagaimana kalau kita bersama-sama merajut mimpi menjadi berwujud? Sudah, ya. Jangan terus menggiringku. Bagaimana kalau kita saling beriringan saja? Sudah, ya. Jangan ingkar lagi dengan hatimu. Bagaimana kalau kita saling jujur dalam bertukar rasa? Sudah, ya. Jangan berdua terus dengan rutinitasmu. Bagaimana kalau kita mulai saja kesibukan untuk menua bersama? Sudah, ya. Jangan sibuk menjadi tulang punggung. Bagaimana kalau kita bertukar tulang saja? Aku yang menjadi tulang rusukmu dan kamu yang menjadi tulang punggungku. Sepakat? Jadi, jangan lagi khawatir tentang kesendirianmu, ya. Kita yang...

Mimpi Kita

Kita hanya dua dari milyaran insan yang berdiri menunggu waktu—saling mengizinkan sebuah pertemuan. Meski hanya pertemuan singkat, mimpi kita sudah terlalu padat sampai tidak bisa lagi dimuat dan disimpan rapat-rapat. Hingga pada suatu hari, kita saling membenci atas ketidakbersamaan. Bukan karena waktu yang terlalu singkat untuk didamba, tetapi tentang seluruh mimpi-mimpi yang belum dituntaskan menjadi nyata. Mungkin juga kita saling merindukan bagian yang tak lagi bisa dilalui bersama, tetapi masih sanggup menatap mimpi dan mewujudkannya—meski hanya seorang diri. Di hadapan semesta, kita layaknya angin yang sibuk mengembara ke sana ke mari mencapai tujuan, tanpa tahu kapan berhenti. Tidak peduli. Seperti memori yang dipaksa kembali atau mimpi-mimpi setinggi langit yang sulit diraih, hilang dan menjadi usang di antara keraguan. Tetapi, tetap hidup di antara harapan. Kita sebenarnya sedang bermain sandiwara di hadapan waktu. Menebak-nebak apa yang akan terjadi,  mungkin ak...

Jejak dan Puncak

Aku jejak yang bermuara di lembah dari sejengkal ketidakpastian. Mencoba berdiri dan bertahan dalam setiap keadaan. Daun kering dan ranting-ranting pohon yang masih setia berkawan— akhirnya mereka jatuh dan berubah haluan. Nyatanya, setiap inci perubahan memiliki dua pilihan: membahagiakan atau berpura-pura dibahagiakan. Lalu, kuarungi setiap tanah yang memanggil, sampai pada titik terjauh, langkahku terhenti. Melihat sosok yang telah lama menunggu dan tersenyum untuk pertama kalinya. Dan pada akhirnya, kamu adalah tanah yang kupijaki, sampai kita bertemu di atas titik tertinggi—di puncak kebahagiaan.

Terjal Berarah

Ada sajak terlahir dari rahim seseorang yang terditraksi pada cermin di ujung jalan, tewas dihajar dilema dan pulang menuju belantara. Tapi, ia tetap hidup dan tak bisa menjelma sebagai diorama, kauharus masuk—katanya, jika ingin mengerti. Lalu, betapa ia ingin didengar. Ingin dirasuki. Tak cukup dibaca. Ia, adalah sajakku.

Siapa?

Siapa yang peduli kepada sajak yang telah pulas tertidur, setelah puing kehancuran baru saja menindas pemiliknya yang ditinggalkan. Kau tak perlu sibuk membangunkannya, biarkan ia terjaga bahkan jika sampai purnama selesai melahap malam. Atau kau bisa menunggunya, itu jika kau peduli. Jika tidak, tinggalkan saja. Bukankah yang peduli memang tak pernah tanggal dan meninggalkan dalam kesendirian?

Jantungku

Jantungku berhasil ranum di belahan tandus dan terabaikan. Bertahan dengan tabahnya bersama luka yang memilih pulang dan pulih. Sajak-sajak deras mengalir menderaikan tirai-tirai duka dan derak hati lantang ingin segera kembali. Biarlah jarak dan jejak menenangkan sunyi yang tega mencercah sudut tak bernyawa. Di antara sua dan mata yang berduka, jantungku ditinggal dan terlepas dari detaknya. Di pusara, "aku akan kembali".

Langit dan Tariannya

Hal yang paling indah adalah ketika menari di bawah kaki langit. Mengintip setiap gerakan dari irama dan getar gemuruh. Gendang telinga dimanjakan oleh alunan angin dan semburat awan dengan tegas tergurat di ambang cakrawala, menitipkan pesan pada siapapun yang ingin terbang dan bebas melampaui dunia. Tanpa batas, segala hamparan lautan biru adalah milikmu; katanya. Pergilah. Tak perlu malu, karena itu adalah pertunjukanmu.

Menyetubuhi Hati

Balada telah sampai pada ujung waktu. Tentang kisah panjang malam ini dan rasamu yang telah menyetubuhi hati ini. Tidak perlu bertanya bagaimana, semua luka sudah pasrah rebah mendekam dan bungkam. Ia merenggut, mengubahnya menjadi elegi. Tidak dipatahkan, tetapi dicabik oleh seluruh gimik. Dihanyutkan dan dibungkam. Apa kabar hati ini? Dimintai pertanggungjawaban tentang siapa—siapa yang bertanggung jawab; perihal luka yang akan ditanggung sendirian. Anak rindu akan lahir, jika dibiarkan semakin lebam dan jika dipaksa gugur ada sakit yang mendalam. Lagi, rindumu bergerak mengusap lembut setiap inci—setiap ruang yang resah. Membawa keadaan menjadi semakin gundah. Aral dan semua punuk lelah membuncah di kesepian, akankah mampu bertahan lama demi menunggu sebuah kepastian? Ketika menanti kepulanganmu dengan cemas, sekujur tubuh berdarah dan lemas. Sepersekian detik, dan aku telah mati menari di batas hampa. Tersungkur dalam keabadian dengan sepenggal dendam yang kutengge...

Rindu Sebatang Kara

Tentu dengan tidak tiba-tiba rindu entah  milik siapa muncul dan menjelma sebagai rasa termanis, dan rasa paling dominan yang melingkar dalam benak saya. Saya tidak sadar saya sudah terjebak dan terus didesak untuk segera menemukan siapa pemiliknya, supaya rindu ini tidak sebatang kara. Terhitung satu minggu, setelah Anda meninggalkan banyak jejak kentara pada pasir pantai. Pasir-pasir berdesir mengusir. Banyak burung-burung terbang di ambang langit, yang menggantikan posisi Anda. Dan, angin-angin sibuk memainkan lagunya—merdunya—yang menusuk sampai ke tulang rusuk. Tahukah Anda? Jejak itu masih terlukis jelas—bagaimana Anda melangkah dengan tegasnya, dan bagaimana Anda melihat saya terbakar panasnya mentari sore yang menyala-nyala—beserta ribuan rindu yang akan tumbuh kelak. Siapapun tahu, bagian yang paling menyedihkan adalah ketika ditinggalkan dengan alasan harus melupakan. Ketika hari berganti dan matahari akan kembali terbenam, tapi saya sudah tak lagi mendapati Anda ter...

Kalut

Gambar
Adalah dahulu Logika tak mampu tembus penjuru Hanya dalam diam, tak berlagu Bergeming, tergiring pada malam sendu Terbelenggu Oleh waktu Setiap satu jam, arlogi seolah-olah lelah Tak mengertikah bagaimana geram? Setiap satu menit, bulan pancarkan jelitanya Ini terasa kian rumit Setiap satu detik, gemintang sorotkan kerlipnya Dalam nuansa abu, aku tercekik Adalah ketika bercerita pada rembulan Tertangkap potret langit, di sana awan bergerak pelan Dedaunan pun ikut bergoyang Dikatakannya, ada yang datang Seseorang yang belum hilang Adalah ketika harap kembalikan setumpuk rindu Padahal waktu tak izinkan bertemu Seperti ombak yang menghapus jejak seorang perindu Lalu, aku memilih untuk selalu merapal namamu Tak jemu-jemu Adalah berada di tengah gulita Sajakpun bisu di antara gempita Bisikkan kesal terdahulu Hati teriris, habis terkikis Tapi, waktu tetap terlukis ———— Sebuah persembahan film pendek dari kami Peserta FLS2N Kontingen Banten. Judul: Ka...