Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerita Pendek

Monolog

Kemarin, sore hari ditemani langit. "Ada yang harus kita tanggalkan, meskipun tinggal tetap ingin menetap!" Suaranya parau beradu dengan burung yang berkicau. Aku tidak mau mendengar juga tidak ingin mengiyakan. "Tapi, tidak usah dipaksa, nanti yang ada kamu tersiksa," ia menghela napas sejenak, "mengalir saja, tanpa harus berpura-pura," lanjutnya. Pikirku, sok tahu sekali ia tentang keadaanku. "Mau bagaimana pun memang tidak ada yang pernah benar-benar lupa, yang ada hanya memilih untuk tidak mengingat luka." Lagi-lagi, lancang sekali. Tidak kupedulikan, biarkan saja ia tetap berbicara. Kuhangatkan kembali isi kepalaku dengan melanjutkan membaca buku dan sesekali menyeruput teh hangat. "Bahagianya boleh kau bagi, sukanya boleh kau rasa, tapi simpan saja untukmu sendiri. Tidak untuk yang lain." Semakin kurang ajar! "Memangnya kenapa?!" "Manusia mana yang bersedia dibahagiakan atas kepura-puraan. Setiap orang sel...

Ironi

Lagu malam tiba-tiba berputar di tengah hunian kesunyian. Ruhnya setengah sadar mengangkat telepon yang bergetar tidak sabar oleh seseorang di ujung telepon. "Halo," "Hmm, hey." "Selamat ulang tahun." "Haaaah," hp nya diulurkan dari telinganya untuk memastikan tanggal malam ini. "Terima kasih, sudah repot tengah malam hanya untuk ini." Itu senyum pertama di hari spesialnya. "Nanti sore, aku jemput, ya. Dandan yang cantik OK!" "Siap, bos!" "Selamat tidur lagi. Aku menyayangimu." "Aku tau dan aku juga menyayangimu."

Segelas Teh Tawar

“Aku ingin menikah denganmu!” Hening sesaat setelah ia mendegar ucapanku. Ia sungguh tak bisa menahan ledakan tawa yang dipaksa disimpan. “Hahahahahahaha. Gila kamu!” Sialan ! Aku sinis dan bingung, “Kenapa?” Dia menatapku tajam. Bisa kubaca dari wajah bulatnya bahwa yang terbesit dalam pikirannya adalah Berani sekali mengucapkan kata sakral ini. Dasar pembual! Ia memperhatikan tubuhku dari atas sampai bawah, tanpa ada yang terlewat. Ya, beginilah rupaku hari ini. Tubuhku layu, seperti kurang air dan gizi. Tidak sedap dipandang karena mata sayu, seperti orang yang baru menenggak anggur. Dan persis di hadapanku adalah seseorang yang berbeda jauh dengan kondisiku. Namanya Bianca, cantik. “Kamu lagi nggak mabuk, kan, Bim?” sudah kutebak pertanyaannya dari beberapa detik yang lalu. Entah sadar atau tidak, aku memang benar-benar sedang tidak mabuk. Sore tadi bahkan hari ini, hanya teh hangat yang baru mengisi kekosongan perutku. Rasanya ...

Mala

Tidak ada yang istimewa daripada kisah-kisah yang ditulisnya di dalam lembar-lembar yang katanya dipenuhi harapan. Tentang secangkir kopi, teh hangat, matahari, bulan, bintang atau sejenisnya. Semua hal-hal ia coba dendangkan melalui nada-nada tulisan yang merdu. Bukan suaranya, tidak juga iramanya. Tetapi maknanya. Mala. Nama penuh doa sekaligus resiko untuk hidupnya. Namanya cantik, tapi ambigu maknanya. Namanya mudah dihafal, tetapi menimbulkan keraguan bagi yang mendengar atau memanggilnya. Nama yang diselipkan oleh orang tuanya benar-benar memiliki makna yang bertentangan arti. Bagi orang yang tidak mengetahui persis arti namanya, mungkin akan mengira sebagai petaka, musibah atau sejenisnya. Tapi, sesungguhnya namanya amat besar dan penuh arti dan keyakinan sebagai penolong, juga bahagia. Sampai detik ini pun adalah perjuangan besar untuk meruntuhkan segala kerusuhan yang berkecamuk di kepala tentang namanya. Tidak ada yang tahu persis untuk beberapa waktu kemudian, mengenai nam...

Undangan dalam Secangkir Kopi

Aku tidak peduli pada malam itu. Tidak peduli harus ke mana. Aku tinggalkan semua keramaian. Aku cukup lelah mengikuti alur kehidupan yang terus mengalir biasa saja. Ini membosankan. Bahkan tidak ada yang lebih hidup daripada sekadar raga ini. Ide-ide tumbang di ujung pikiran. Motivasi pergi menyita segala jiwa. Aku enggan lagi seperti ini. Lelah. Malam ini aku rindu merapatkan tubuh kepada sepiku. Memilih menidurkannya pada kesendirian. Bertahan pada kesenyapan tanpa sayap-sayap dan cuap-cuap. Aku ingin jauh dari riuh. Malam ini saja akan kutimang semua gundah dalam dada. “Semoga kautak kesepian,” hatiku bergumam demikian. Aku melangkah dengan gontai meninggalkan perapian pusat pikiranku. Berjalan dengan memutar haluan, entah ke mana. Diri ini sadar telah hilang kendali oleh diri sendiri. Demikian, aku tidak pernah ingin berhenti berjalan. Bagaimanapun, kelak di manapun, akan kutemukan sebuah titik balik pada diri ini. Aku tidak akan berhenti, bahkan jika perapian itu...

Kubangan Luka Bernama Kenangan

Di pagi yang mendung, burung-burung sudah sibuk bersenandung. Jejaknya terhuyung-huyung, terhitung sejak lembayung mengepung dirinya dengan segumpal tanda tanya yang menggantung di kepala. Selalu saja ada yang merenggut bahagianya, selepas bunga-bunga rindu hampir bermekaran indah. Isi otaknya telah dirombak. Harapannya rusak. Segala pikirannya telah dikoyak. Sisanya adalah imajinasi yang berdiri tegak. Baginya, hidup adalah imajinasi—saat ini. Imajinasi adalah kehidupannya. Imajinasi menghidupkan kehidupannya. Tanpa imajinasi hidupnya redup. Tak hidup. Betapa berharga imajinasi dalam dirinya. Berhari-hari hatinya rapuh. Jiwanya luruh. Tubuhnya jatuh. Runtuh. Seakan terbunuh. Di pagi yang tidak cerah, hanya setitik cahaya terlempar dari ufuk timur, sedikit indah. Langkahnya dipaksa pindah dari antah berantah. Selalu saja ada yang merobek suka menjadi luka yang sangat basah. Memaksa memori cepat punah. Ikut mengalir dalam darah. Tumpah bersama amarah. Membuat resah dan gundah....

Tidak Lagi Sendiri

Secangkir teh hangat asapnya masih mengepul-ngepul menjadi teman setia setiap pagi. Matahari seperti kelelahan, sinarnya tidak begitu cerah.  Sederhana, hanya ada aku dan Bunda. Setiap pagi kami selalu bercerita, kali ini mengenai ayah. Memang sudah menjadi rutinitas kami. Ayah. Mengenai ayah, yang benar-benar aku tahu adalah namanya. Widan Natawan. Sosok ayah bagiku semu, tidak pernah kulihat sosoknya seperti apa, hanya bisa kubayangkan melalui cerita bunda. Jangankan untuk mendengar ayah berbicara, sekadar merasakan kehangatannya pun belum pernah kurasakan. Tak apa, bersama Bunda aku lengkap dan seperti sedang bersama ayah. Kata bunda, ayah selalu ada bersama kita, jadi tidak usah khawatir. "Ayahmu, setiap pagi selalu menyempatkan berolahraga, Nak," mata bunda menerawang langit-langit. "Hobinya berolahraga." Nada bicaranya benar-benar semangat. Bunda selalu asyik menghabiskan waktu jika membicarakan ayah. Tiap kali beliau bercerita, aku bisa mengawan...

Halaman Terakhir

Sebait puisi terakhir baru saja ia ucap dengan lirih. Rak buku beserta buku-buku di ruang tersebut seakan menjadi penikmat, seolah mereka sedang menonton pertunjukan pembacaan puisi. Buku yang digenggamnya―jika ia dapat berbicara―merasakan getaran nadi yang begitu hebat; degup jantung berirama cepat; bayangan masa lalu yang pelan-pelan merambat kuat. Setiap baris puisi tersebut mengingatkannya pada suatu masa. Satu per satu halaman membaca mimiknya, begitupun dirinya yang membaca isi halaman dengan mimik terbaiknya. Kenangan menenggelamkan angan-angan terdahulunya. Sejumput rindu terjemput, merasuk, menusuk rusuk... Secangkir kopi diseruput oleh bibir merahnya, aroma pahit mulai menguasai ruangan. Ia berdiri sambil memegang cangkir yang masih berisi setengah kopi, memandang sejenak langit yang menangis. Diara kemudian membalikkan punggungnya dan mengangkat bahunya, melirik Ana sahabatnya. “Kamu cuma tau rahasia cuaca hari ini, Di,” ucap Ana. “Dan rahasianya langit yang...