Postingan

Kenang Katamu

Katamu aku menenangkan, tapi kenapa kamu berhenti berusaha memenangkanku? Katamu aku harus menjadi rumah untukmu, tapi kenapa pada akhirnya kamu tak sungguh untuk singgah bersamaku? Katamu setelah lulus kita akan bersama, tapi kenapa pada akhirnya kamu yang memaksaku untuk mengakhiri kita? Katamu, kalau terjadi sesuatu padaku lekas bilang kepadamu, tapi kenapa pada akhirnya kamu yang hilan g tanpa berkabar kepadaku? Katamu, tidak ada nyaman lain selainku, tapi kenapa pada akhirnya kita tidak saling bertahan? Katamu, kamu butuh tubuh untuk memelukmu dari jauh, tapi kenapa segala peluhku tidak jua dapat meringankan pelikmu? Katamu, kamu selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku, tapi kenapa kamu membatasi semestamu untukku? Katamu, kamu akan segera bertamu untukku, tapi kenapa kita tidak kunjung bertemu? Katamu, kamu masih merindu, tapi kenapa kita tidak lagi bisa bersatu? Jawab!

Kamu Hebat

Dia datang dengan segala sedihnya, tapi kamu tetap menerimanya dengan tabah dan memilih menyimpan sedihmu. Dia datang selalu menancapkan sakit, tapi kamu tetap melambungkan doa untuknya setinggi langit. Dia pergi tanpa permisi berkali-kali, tapi kamu tetap mempersilakannya masuk lagi dan lagi. Dia berbicara terus-menerus meminta dimengerti olehmu, tapi dia tidak tahu ada luka yang sedang tumbuh dalam tubuhmu. Dia membatasi segala ruangnya darimu, tapi kamu tetap membuka diri padanya tanpa sekat sedikit pun. Dia tidak pernah berusaha menjadi pendengarmu, tapi kamu berusaha mati-matian menjadi penawarnya. Dia tidak pernah ingat yang spesial tentangmu, tapi kamu tidak pernah lupa sekalipun hari ulang tahunnya. Dia tidak pernah paham apa yang kamu rasa, tapi hatimu tidak pernah mendendam untuk melakukan hal serupa kepadanya. Siapapun kamu, kamu hebat.

Tak Terima

"Apa lagi yang kamu cari?" Laki-laki di depannya hanya mematung. "Ke mana perempuan-perempuan itu? Sudah pergi sepertimu yang hilang tanpa kabar?!" Masih, ia terus abai kepada perempuan yang terus meluapkan segala sesak dalam hatinya. "Demi Tuhan, aku nggak tau harus apa lagi!" Tidak juga ada percakapan yang berbalas. "Sekarang, terserah mau kamu apa, aku tidak peduli! Bukan aku yang memilih meninggalkanmu, tapi kamu yang memaksa aku untuk meninggalkanmu!" Ia berbicara sendirian menunggu pembicaraan. "Kalau nanti hatimu berbalik, hatiku masih tetap baik, tapi peduliku sudah raib!" Laki-laki di seberangnya masih tetap mematung. "Sekali lagi, bila melepaskan adalah pilihanmu, akan kutegaskan dengan mengikhlaskanmu!" Ia pergi meninggalkan laki-laki yang pernah membersamai dan dibersamainya. Hatinya mantap melangkah dari segala lemahnya yang terus memunculkan sakit. Ia tidak membenci, tidak juga mencinta lagi, ia sudah ...

Menu Istimewa

Ingin kukuliti tubuhmu yang dingin dengan hangat pelukku. Lantas kuisi dengan gelegak tawa yang kutabung sejak dulu. Seisi semesta sudah siap memanggang rindu-rindu di antara kita, ditambah sekelompok bunga lily yang cemburu menyaksikanku tenggelam di dadamu. Setelahnya kita bercengkerama sambil menyaksikan langit berganti kulit, dan kita kekenyangan membicarakan masa depan sampai ketiduran lalu diculik dari kesedihan.

Semestinya Semesta

Aku ingin, tapi semesta tetap dingin Aku rindu, tapi semesta seolah tidak tahu Aku jatuh, tapi semesta semakin menjauh Aku patah, tapi semesta memilih pindah Aku remuk, tapi semesta tak ingin rujuk Aku sakit, tapi semesta terasa semakin pahit Dan ketika semesta mulai bicara, aku enggan bersuara.

Monolog

Kemarin, sore hari ditemani langit. "Ada yang harus kita tanggalkan, meskipun tinggal tetap ingin menetap!" Suaranya parau beradu dengan burung yang berkicau. Aku tidak mau mendengar juga tidak ingin mengiyakan. "Tapi, tidak usah dipaksa, nanti yang ada kamu tersiksa," ia menghela napas sejenak, "mengalir saja, tanpa harus berpura-pura," lanjutnya. Pikirku, sok tahu sekali ia tentang keadaanku. "Mau bagaimana pun memang tidak ada yang pernah benar-benar lupa, yang ada hanya memilih untuk tidak mengingat luka." Lagi-lagi, lancang sekali. Tidak kupedulikan, biarkan saja ia tetap berbicara. Kuhangatkan kembali isi kepalaku dengan melanjutkan membaca buku dan sesekali menyeruput teh hangat. "Bahagianya boleh kau bagi, sukanya boleh kau rasa, tapi simpan saja untukmu sendiri. Tidak untuk yang lain." Semakin kurang ajar! "Memangnya kenapa?!" "Manusia mana yang bersedia dibahagiakan atas kepura-puraan. Setiap orang sel...

Ruah

Boleh kalau kubagi senyumku untukmu hari ini? Aku belum berbagi dunia bahagiaku hari ini, dan memang ingin berbagi dunia hanya bersamamu. Makanya kusimpan rapat sampai sekarang—dan aku juga ingin tahu bagaimana duniamu hari ini, barangkali kamu butuh bahagiaku untuk melarung laramu. Tapi, itu pun kalau kamu mau, kalau tidak ya sudah aku simpan rapat duniaku; daripada harus berbagi dengan yang lain.

Ironi

Lagu malam tiba-tiba berputar di tengah hunian kesunyian. Ruhnya setengah sadar mengangkat telepon yang bergetar tidak sabar oleh seseorang di ujung telepon. "Halo," "Hmm, hey." "Selamat ulang tahun." "Haaaah," hp nya diulurkan dari telinganya untuk memastikan tanggal malam ini. "Terima kasih, sudah repot tengah malam hanya untuk ini." Itu senyum pertama di hari spesialnya. "Nanti sore, aku jemput, ya. Dandan yang cantik OK!" "Siap, bos!" "Selamat tidur lagi. Aku menyayangimu." "Aku tau dan aku juga menyayangimu."

Dilamarmu

Aku mau menjadi wanitamu, yang selalu diajak makan berdua denganmu, walaupun di pinggir jalan memakan nasi goreng kesukaanku atau sate kesukaanmu. Aku mau menjadi wanitamu, yang setiap pagi menanyakan ingin makan apa. Lalu katamu, apapun makanannya— kalau yang membuatkanmu aku pasti suka. Aku mau menjadi wanitamu, yang memelukmu erat saat kau ingin rebah dari lelah. Lalu kusisipkan kecupan hangat di pipimu dan berkata "Aku selalu di sini". Aku mau menjadi wanitamu, yang bersedia mendengar semua keluh kesahmu juga bahagiamu. Telinga, raga, mata, hatiku selalu ada untukmu. Aku mau menjadi wanitamu, yang setiap kau berangkat kerja aku mencium tangan kekarmu; yang pulangnya membukakan dasi kemejamu lalu menyiapkan air hangat juga makan malam untukmu. Aku mau menjadi wanitamu, yang hangat rumah dan dingin amarahmu hanya aku yang rasa—juga tawa dan isakmu hanya aku yang tahu. Aku mau menjadi wanitamu yang pundakmu memang kausediakan hanya untukku, yang tanganmu hanya mengus...

Kepalmu

Lagi, aku dengar gemuruh isi kepalamu. Berkali-kali kencang menderu Sangat berisik menelanjangi pikiranku. Kenapa tidak mengunjungiku sih, biar redam tidak menganggu. Kan kalau begini, aku jadi sibuk nanti menidurkan hatiku. Bagaimana bisa tenang dengan keadaanmu. Kalau ternyata ikut kalut memelukmu. Lain kali, buka mata hatimu Agar tahu ada seseorang yang membuang waktu sampai pagi untuk menunggumu. Memastikanmu aman dalam peraduanmu Atau kunci rapat-rapat jendelamu, Agar aku tidak tahu, tapi yang seperti ini, jujur—aku tidak mau. Paham?