Postingan

Rasa Luka

Terima kasih kenang dan kunang malam—juga keningmu yang sengaja membentur keningku, karena telah bersedia sibuk untuk bersekongkol melayat luka dan membelah ingatan buruk. Tapi, tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana rasanya. Luka tetaplah luka, meski dibebat perban tebal dan kencang-kencang. Tidak ada yang berubah. Sakitnya abadi, walaupun katamu tak apa! "Nikmati saja lukamu pelan-pelan sampai kau lupa punya luka. Tapi, jangan terlalu pelan, bisa-bisa kau dilukai lukamu kembali. Selamat menikmati luka!"

Usang

Aku menikmati udara yang menjadi pembatas epidermis kita—yang dinginnya membangunkan syarafku tapi tak meruntuhkan kehangatanmu. Kemudian, aroma sepasang kopi kita lancang masuk ke langit-langit penciuman. Aku hirup dalam-dalam sepasang tubuh yang melingkar di keheningan. Saling meratap tanpa mendekap, bertukar tengkar saling mendengar getar. Bisa kulihat kelikatmu di belikatku menjelma abu-abu. Membelah  impian, dan menanggalkannya satu-persatu. Menjadi  abu.

Bersuara

Aksarakanlah isi kepala dan suara hatimu sampai menjadi raksasa, sampai mengangkasa.

Segelas Teh Tawar

“Aku ingin menikah denganmu!” Hening sesaat setelah ia mendegar ucapanku. Ia sungguh tak bisa menahan ledakan tawa yang dipaksa disimpan. “Hahahahahahaha. Gila kamu!” Sialan ! Aku sinis dan bingung, “Kenapa?” Dia menatapku tajam. Bisa kubaca dari wajah bulatnya bahwa yang terbesit dalam pikirannya adalah Berani sekali mengucapkan kata sakral ini. Dasar pembual! Ia memperhatikan tubuhku dari atas sampai bawah, tanpa ada yang terlewat. Ya, beginilah rupaku hari ini. Tubuhku layu, seperti kurang air dan gizi. Tidak sedap dipandang karena mata sayu, seperti orang yang baru menenggak anggur. Dan persis di hadapanku adalah seseorang yang berbeda jauh dengan kondisiku. Namanya Bianca, cantik. “Kamu lagi nggak mabuk, kan, Bim?” sudah kutebak pertanyaannya dari beberapa detik yang lalu. Entah sadar atau tidak, aku memang benar-benar sedang tidak mabuk. Sore tadi bahkan hari ini, hanya teh hangat yang baru mengisi kekosongan perutku. Rasanya ...

Kopi Hangat

Aku suka kamu, Entah, Mungkin dengan menjadi secangkir kopi aku akan tahu jawabannya Tapi tidak juga, Kalau kopinya hangat, aku pastikan kau akan mereguknya sekali lagi Ah, aku menyukai itu. Ketika gincu merah jambumu beradu dan membekas di bibirku.. Aku masih ingin; menjadi kopi hangat

Mala

Tidak ada yang istimewa daripada kisah-kisah yang ditulisnya di dalam lembar-lembar yang katanya dipenuhi harapan. Tentang secangkir kopi, teh hangat, matahari, bulan, bintang atau sejenisnya. Semua hal-hal ia coba dendangkan melalui nada-nada tulisan yang merdu. Bukan suaranya, tidak juga iramanya. Tetapi maknanya. Mala. Nama penuh doa sekaligus resiko untuk hidupnya. Namanya cantik, tapi ambigu maknanya. Namanya mudah dihafal, tetapi menimbulkan keraguan bagi yang mendengar atau memanggilnya. Nama yang diselipkan oleh orang tuanya benar-benar memiliki makna yang bertentangan arti. Bagi orang yang tidak mengetahui persis arti namanya, mungkin akan mengira sebagai petaka, musibah atau sejenisnya. Tapi, sesungguhnya namanya amat besar dan penuh arti dan keyakinan sebagai penolong, juga bahagia. Sampai detik ini pun adalah perjuangan besar untuk meruntuhkan segala kerusuhan yang berkecamuk di kepala tentang namanya. Tidak ada yang tahu persis untuk beberapa waktu kemudian, mengenai nam...

Keluarga Kecil di Kampus

Sepanjang hidup, inilah perjuangan terbaik sampai saat ini. Perjuangan hebat yang berpondasi pribadi-pribadi hebat. Perjuangan yang utuh dan bermakna dari sosok-sosok pejuang tangguh. Perjuangan yang dimaknai rasa kekeluargaan. Perjuangan tentang bagaimana memaknai arti perjuangan itu sendiri.  Dan perjuangan ini adalah kita, keluargaku. Kalian adalah keluarga yang tidak dilahirkan, tetapi dihadirkan.  Kalian adalah keluarga yang tidak pernah dibayangkan, tetapi selalu menghangatkan.  Keluarga yang tidak selalu bersama, tetapi senantiasa membawa bahagia. Sejatinya perjuangan tidak akan pernah berakhir, karena perjuangan adalah untuk selama-lamanya. Maka, juga―tidak akan pernah ada kata akhir bagi sebuah keluarga. Keluarga tetaplah keluarga. Inni uhibbukum fillah, keluargaku!

Menuju Kehilangan

Berhari-hari sudah kuhabiskan seluruh jalan agar aku merasa tidak seorang diri. Dan aku berhasil, ratusan persimpangan telah kulewati. Tidak pernah aku menemui diriku berjalan seorang diri, selalu ada seseorang yang juga melangkahkan kaki bersamaku. Mereka tidak menggiringku, juga tidak beriringan denganku. Semuanya berjalan sesuai jalannya masing-masing. Tikungan, tanjakan bahkan kebuntuan pernah menerkamku dan memaksaku untuk kembali menuju jalan yang lain. Sampai bermil-mil jauhnya, langkahku harus kupaksakan berjalan. Karena sudah kumantapkan, aku hanya ingin terus berjalan. Tidak peduli apapun. Sampai suatu ketika, di persimpangan ke berapa, aku menemui seseorang yang tak asing. Juga baru kutemui seseorang lain yang menghampirimu. Aku berusaha tidak peduli, tapi tidak bisa. Langkahku tetap berjalan tapi tetap di suatu tempat, ia merengek dan memintaku Untuk menyaksikan sebuah kehilangan yang memang dirayakan untukku. Kalian tidak perlu tersenyum, juga tidak usah khawatir,...

Mimpi Kita

Kita hanya dua dari milyaran insan yang berdiri menunggu waktu—saling mengizinkan sebuah pertemuan. Meski hanya pertemuan singkat, mimpi kita sudah terlalu padat sampai tidak bisa lagi dimuat dan disimpan rapat-rapat. Hingga pada suatu hari, kita saling membenci atas ketidakbersamaan. Bukan karena waktu yang terlalu singkat untuk didamba, tetapi tentang seluruh mimpi-mimpi yang belum dituntaskan menjadi nyata. Mungkin juga kita saling merindukan bagian yang tak lagi bisa dilalui bersama, tetapi masih sanggup menatap mimpi dan mewujudkannya—meski hanya seorang diri. Di hadapan semesta, kita layaknya angin yang sibuk mengembara ke sana ke mari mencapai tujuan, tanpa tahu kapan berhenti. Tidak peduli. Seperti memori yang dipaksa kembali atau mimpi-mimpi setinggi langit yang sulit diraih, hilang dan menjadi usang di antara keraguan. Tetapi, tetap hidup di antara harapan. Kita sebenarnya sedang bermain sandiwara di hadapan waktu. Menebak-nebak apa yang akan terjadi,  mungkin ak...

Raib

Aku jemari tangan yang menahan luka, menanti sepasang mata. Menatapku, menjemputku. Hidup, lalu hidup memanggilnya. Di atas mangkuk bulan dan sinarnya, nadiku bergetar seirama jantung berdebar. Nanar meminta dipenjarakan dan dibiarkan tak bernyawa berlama-lama. Lalu, akan kumainkan seluruh peran dan perannya. Di kaki sayap-sayapmu yang kupatahkan sengaja, telah kuhirup dalam-dalam peliknya kehidupan dan sandiwara. Aku berjalan, hingar menelisik kenangan sampai hilang. Dan nada-nadaku, juga udaraku berkurang satu—kamu.