Postingan

Raib

Aku jemari tangan yang menahan luka, menanti sepasang mata. Menatapku, menjemputku. Hidup, lalu hidup memanggilnya. Di atas mangkuk bulan dan sinarnya, nadiku bergetar seirama jantung berdebar. Nanar meminta dipenjarakan dan dibiarkan tak bernyawa berlama-lama. Lalu, akan kumainkan seluruh peran dan perannya. Di kaki sayap-sayapmu yang kupatahkan sengaja, telah kuhirup dalam-dalam peliknya kehidupan dan sandiwara. Aku berjalan, hingar menelisik kenangan sampai hilang. Dan nada-nadaku, juga udaraku berkurang satu—kamu.

Sua

Kamu hanya pendatang, menggerayang dan melintas entah ke mana. Bersama di hadapan, jua dipeluk oleh ruang bertekuk kehancuran. Dan sejengkal tanah adalah kekasihnya. Kelak, agaknya sampai di tepi jurang. Dimuntahkannya segala udara untuk menyampaikan sesak yang tersisa— berdua, sekali lagi.. . . . . . Hai, apa kabar?

Jejak dan Puncak

Aku jejak yang bermuara di lembah dari sejengkal ketidakpastian. Mencoba berdiri dan bertahan dalam setiap keadaan. Daun kering dan ranting-ranting pohon yang masih setia berkawan— akhirnya mereka jatuh dan berubah haluan. Nyatanya, setiap inci perubahan memiliki dua pilihan: membahagiakan atau berpura-pura dibahagiakan. Lalu, kuarungi setiap tanah yang memanggil, sampai pada titik terjauh, langkahku terhenti. Melihat sosok yang telah lama menunggu dan tersenyum untuk pertama kalinya. Dan pada akhirnya, kamu adalah tanah yang kupijaki, sampai kita bertemu di atas titik tertinggi—di puncak kebahagiaan.

Akan

Izinkan aku menguliti seluruh kisah yang pernah ada. Bahkan hanya dengan secangkir teh hangat atau segelas kopi sebagai penawar hambar. Kisah-kisah silam dan abadi terkenang dalam ingatan, cita-cita yang diharapkan akan hidup di masa depan dan doa-doa tulus semoga masih setia menggiring kita. Nanti, jika kupulang dengan atau tanpa raga, akan kukirim yang tersisa—hanya jiwa, yang semoga masih dapat memelukmu melalui kata.

Terjal Berarah

Ada sajak terlahir dari rahim seseorang yang terditraksi pada cermin di ujung jalan, tewas dihajar dilema dan pulang menuju belantara. Tapi, ia tetap hidup dan tak bisa menjelma sebagai diorama, kauharus masuk—katanya, jika ingin mengerti. Lalu, betapa ia ingin didengar. Ingin dirasuki. Tak cukup dibaca. Ia, adalah sajakku.

Elegi

Sepi dan sunyi telah lama mendiami tubuh. Riuh-riuh telah dilucutinya dari ruh. Dirampas seluruhnya, lalu redam padam muncul tak berkesudahan. Di tanggal itu, ada hati yang telah dipatahkan. Sengaja ditanggalkan. Dan tertinggal di keramaian.

Patah Hati

Patah hati? Untuk apa? Jika patahnya hatimu dan patahannya dapat melukai dan memperparah semesta hatimu. Masih ingin melukai hatimu? Untuk apa?

Siapa?

Siapa yang peduli kepada sajak yang telah pulas tertidur, setelah puing kehancuran baru saja menindas pemiliknya yang ditinggalkan. Kau tak perlu sibuk membangunkannya, biarkan ia terjaga bahkan jika sampai purnama selesai melahap malam. Atau kau bisa menunggunya, itu jika kau peduli. Jika tidak, tinggalkan saja. Bukankah yang peduli memang tak pernah tanggal dan meninggalkan dalam kesendirian?

Jantungku

Jantungku berhasil ranum di belahan tandus dan terabaikan. Bertahan dengan tabahnya bersama luka yang memilih pulang dan pulih. Sajak-sajak deras mengalir menderaikan tirai-tirai duka dan derak hati lantang ingin segera kembali. Biarlah jarak dan jejak menenangkan sunyi yang tega mencercah sudut tak bernyawa. Di antara sua dan mata yang berduka, jantungku ditinggal dan terlepas dari detaknya. Di pusara, "aku akan kembali".

Ketika

Rona, jatuh dan tenggelam Ditertawai waktu  dan logika Tersungkur! Aksara terjun menentang Derita, Adalah tamu dan kamu Riuh mencandu