Postingan

Pesan Dariku, Tuan

Yang sedang bersedih, Tuanku, semoga pesanku cukup menenangkanmu. Sebelumnya, maafkan aku karena tidak pernah berhasil menghiburmu, sekadar menenangkan—menghantarkan sebuah pelukan dan kecupan hangat, misalnya. Ketahuilah, ada perasaan yang muncul dan menjelma seperti yang kamu rasakan. Kacau, katamu. Tidak tahu harus apa—ketika pikiranmu benar-benar sedang buntu. Percaya atau tidak, di sudut ruangan lain, ada khawatir dan getir. Ada diriku, perempuan yang ikut luruh dalam kerapuhanmu. Sosok yang tidak terlihat di depan matamu, tapi nyata memelukmu dengan lengan doa-doaku. Percayalah, ada yang sedang merengkuh relungmu, berusaha ikut mengangkat tajamnya belati yang menusuk sampai rusukmu—yang sakitnya teramat dalam bagimu. Sadarkah, tetes airmatamu turut memecah tulang airmataku, sehingga keduanya beriringan mengalir jernih pada pipi dua insan. Kau dan aku. Aku ingin berusaha mengiringmu, lalu kita seiringan menepi pada akhir kesedihanmu. Agar lukamu lekas hanyut dirombak ombak me...

Peruntuh

Bukan perihal mudah ketika seluruhnya telah rapuh, perlahan jatuh; tak lagi utuh. Ketika langit berseru dengan gemuruhnya—mengisyaratkan tanda di atas sana—yang sulit diterka, sulit dibaca. Ada Anda terduduk manis, membawa sepucuk surat di genggaman yang terlihat jelas dari kejauhan. Entah kali ini kabar burung yang membosankan, atau fakta mengejutkan. Mimik dan gestur Anda sama dengan langit kali ini: sulit diterka. Saya berjalan maju menuju Anda yang terpekur menikmati sendu senja, semakin mendekat dengan gontainya. Entah untuk kali ini, sakit dan luka saya sudah kunjung pulih setelah ratusan hari kita membiarkan menutup diri, tidak bertemu, tidak bertatap, tidak  berbincang. Terakhir kali, Anda benar-benar membuat saya remuk, kalau boleh saya ibaratkan, Anda memberi sebuah bingkisan cantik, yang di dalamnya berisi kisah antik dengan luka berlurik-lurik. Tapi, saya yakin, untuk kunjungan kali ini tidak akan ada luka lagi, sebab Anda sudah berbahagia, begitupun dengan saya....

Begini yang Aku Pahami

Sedikitnya dalam hidup ada dua hal: sepasang atau berpasang-pasang. Dan sudah banyak yang kautemui. Akan kucermati satu persatu. Begini: Ini bukan saja perkara "merah" luka yang berdarah parah. Mungkin hanya tentang senja yang datang terlambat memberi "jingga" pada mega. Tapi, tetap saja senyum "kuning"mu tersungging ketika melihatku, dan kuanggap itu sebagai pulau "hijau"ku—keteduhanku. Lalu, begini sajakah yang kausebut rindu di bibir pantai "biru"? Padahal di sini tersedia kopi dan gula—"hitam" dan "putih"— sebagai pemecah sendu dan penawar rindu. Bisa jadi, ini hanya sorot matamu yang sempat kucermati—sedang matamu adalah mata hatiku. Lalu, sudah berapa banyak warna yang kautemui—kaumengerti? Hitunglah, dan pahami.

Ribuan Hari yang Lalu

Tenga h malam ini, saya terbangun. Mencerna pembicaraan Anda tentang kita yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya. Membelalakkan mata pada ponsel yang selalu menjadi pusat pandangan saya kala terbangun adalah kebiasaan rutin. Menumpahkan setiap bahasa, dan menulis tentang kisah yang belum pernah saya rasakan juga menjadi harapan kecil yang tersimpan rapih dalam catatan harian saya. Anda bilang, saya dan Anda akan menjadi kita. Tapi, saya tak menemui titik temu itu juga. Malah, saya masih menemui seseorang yang telah pergi mendahului Anda di sudut tatapan kita ― dia masih terapit di mata Anda.  Jujur, saya membenci hal ini. Sepertinya, kita terjebak di dalam persimpangan. Kita masih terhanyut dalam perasaan dulu, yang sudah basi. Anda masih terlalu serius dan mengunci ruang itu ―di dalamnya, ada seorang perempuan mungil berambut panjang. Sementara, saya masih tercekat pada sosok yang selalu menyikat habis pikiran saya. Kita selalu berpapas paras, tapi tidak benar-benar war...

Semoga

Ada yang ingin saya bicarakan, sebentar saja, Tuan. Tuan, ada yang harus Anda ketahui—kauingat baik-baik ya—pekan depan adalah hal penting untuk saya—yang sebenarnya adalah untuk kita. Genap satu tahun bersama-sama, Anda benar-benar menjadi Tuan di dalam hati saya, setelah lamanya ruangan ini kosong dan berdebu, tidak ada Tuan-tuan lain sebelumnya, hanya Anda, Tuan. Mengertikah, Tuan adalah ganjil yang menggenapkan, sehingga kita adalah sepasang, dan saya tidak usah mencari pasangan lain lagi, karena "bila ganjil menggenapkan, maka dua akan melenyapkan" ( Dee ). Begitulah kiranya. Oh tunggu, sebenarnya saya juga tidak pernah mengira-ngira sebelumnya bila Tuan akan hadir selama ini, jadi, biarkan saya tetap memperkirakan bahwa Tuan adalah penjaga atas diri saya.  Semoga.

Aku dan Mereka

Mereka terus berlalu lalang, entah untuk apa Dan saya hanya berdiri dengan mata menyalang, entah karena apa. Mereka gaduh sampai berpeluh, menikmati riuh tak beraturan Dan saya lumpuh, enggan lagi hanya menaruh harapan

Hujan di Februari

Baru saja hujan pulang, kau menyebutnya sebagai luka Terapit di antara fajar Jangankan seteko teh, untuk sepotong rotipun tak ada Kau menambahkan satu kata lagi, luka lama Hingar bingar, kau tak mengenalnya sebagai suka Yang sesungguhnya adalah terluka Hujan patahkan sayap-sayap Membalur lembut dalam dada Hujan jatuhkan peluh kerinduan Beraroma asam, karena sudah kadaluwarsa

Halaman Terakhir

Sebait puisi terakhir baru saja ia ucap dengan lirih. Rak buku beserta buku-buku di ruang tersebut seakan menjadi penikmat, seolah mereka sedang menonton pertunjukan pembacaan puisi. Buku yang digenggamnya―jika ia dapat berbicara―merasakan getaran nadi yang begitu hebat; degup jantung berirama cepat; bayangan masa lalu yang pelan-pelan merambat kuat. Setiap baris puisi tersebut mengingatkannya pada suatu masa. Satu per satu halaman membaca mimiknya, begitupun dirinya yang membaca isi halaman dengan mimik terbaiknya. Kenangan menenggelamkan angan-angan terdahulunya. Sejumput rindu terjemput, merasuk, menusuk rusuk... Secangkir kopi diseruput oleh bibir merahnya, aroma pahit mulai menguasai ruangan. Ia berdiri sambil memegang cangkir yang masih berisi setengah kopi, memandang sejenak langit yang menangis. Diara kemudian membalikkan punggungnya dan mengangkat bahunya, melirik Ana sahabatnya. “Kamu cuma tau rahasia cuaca hari ini, Di,” ucap Ana. “Dan rahasianya langit yang...

Ajarkan Aku

Ajarkan aku bagaimana menjadi seseorang yang baru, yang akan berpisah denganmu.  Ajarkan aku bagaimana supaya aku meninggalkanmu lebih dulu sebelum ego di antara kita membuncah, dengan cepat satu-persatu remah-remah-an hati akan terbawa angan .  Ajarkan aku untuk mengerti bahwa tentang rindu selama ini adalah palsu, hanya ke-pura-puraan-mu. Ajarkan aku menjadi sosok yang lebih mencinta diriku daripada dirimu. Ajarkan aku.

Rindu Sebatang Kara

Tentu dengan tidak tiba-tiba rindu entah  milik siapa muncul dan menjelma sebagai rasa termanis, dan rasa paling dominan yang melingkar dalam benak saya. Saya tidak sadar saya sudah terjebak dan terus didesak untuk segera menemukan siapa pemiliknya, supaya rindu ini tidak sebatang kara. Terhitung satu minggu, setelah Anda meninggalkan banyak jejak kentara pada pasir pantai. Pasir-pasir berdesir mengusir. Banyak burung-burung terbang di ambang langit, yang menggantikan posisi Anda. Dan, angin-angin sibuk memainkan lagunya—merdunya—yang menusuk sampai ke tulang rusuk. Tahukah Anda? Jejak itu masih terlukis jelas—bagaimana Anda melangkah dengan tegasnya, dan bagaimana Anda melihat saya terbakar panasnya mentari sore yang menyala-nyala—beserta ribuan rindu yang akan tumbuh kelak. Siapapun tahu, bagian yang paling menyedihkan adalah ketika ditinggalkan dengan alasan harus melupakan. Ketika hari berganti dan matahari akan kembali terbenam, tapi saya sudah tak lagi mendapati Anda ter...