Postingan

Hujan di Februari

Baru saja hujan pulang, kau menyebutnya sebagai luka Terapit di antara fajar Jangankan seteko teh, untuk sepotong rotipun tak ada Kau menambahkan satu kata lagi, luka lama Hingar bingar, kau tak mengenalnya sebagai suka Yang sesungguhnya adalah terluka Hujan patahkan sayap-sayap Membalur lembut dalam dada Hujan jatuhkan peluh kerinduan Beraroma asam, karena sudah kadaluwarsa

Halaman Terakhir

Sebait puisi terakhir baru saja ia ucap dengan lirih. Rak buku beserta buku-buku di ruang tersebut seakan menjadi penikmat, seolah mereka sedang menonton pertunjukan pembacaan puisi. Buku yang digenggamnya―jika ia dapat berbicara―merasakan getaran nadi yang begitu hebat; degup jantung berirama cepat; bayangan masa lalu yang pelan-pelan merambat kuat. Setiap baris puisi tersebut mengingatkannya pada suatu masa. Satu per satu halaman membaca mimiknya, begitupun dirinya yang membaca isi halaman dengan mimik terbaiknya. Kenangan menenggelamkan angan-angan terdahulunya. Sejumput rindu terjemput, merasuk, menusuk rusuk... Secangkir kopi diseruput oleh bibir merahnya, aroma pahit mulai menguasai ruangan. Ia berdiri sambil memegang cangkir yang masih berisi setengah kopi, memandang sejenak langit yang menangis. Diara kemudian membalikkan punggungnya dan mengangkat bahunya, melirik Ana sahabatnya. “Kamu cuma tau rahasia cuaca hari ini, Di,” ucap Ana. “Dan rahasianya langit yang...

Ajarkan Aku

Ajarkan aku bagaimana menjadi seseorang yang baru, yang akan berpisah denganmu.  Ajarkan aku bagaimana supaya aku meninggalkanmu lebih dulu sebelum ego di antara kita membuncah, dengan cepat satu-persatu remah-remah-an hati akan terbawa angan .  Ajarkan aku untuk mengerti bahwa tentang rindu selama ini adalah palsu, hanya ke-pura-puraan-mu. Ajarkan aku menjadi sosok yang lebih mencinta diriku daripada dirimu. Ajarkan aku.

Rindu Sebatang Kara

Tentu dengan tidak tiba-tiba rindu entah  milik siapa muncul dan menjelma sebagai rasa termanis, dan rasa paling dominan yang melingkar dalam benak saya. Saya tidak sadar saya sudah terjebak dan terus didesak untuk segera menemukan siapa pemiliknya, supaya rindu ini tidak sebatang kara. Terhitung satu minggu, setelah Anda meninggalkan banyak jejak kentara pada pasir pantai. Pasir-pasir berdesir mengusir. Banyak burung-burung terbang di ambang langit, yang menggantikan posisi Anda. Dan, angin-angin sibuk memainkan lagunya—merdunya—yang menusuk sampai ke tulang rusuk. Tahukah Anda? Jejak itu masih terlukis jelas—bagaimana Anda melangkah dengan tegasnya, dan bagaimana Anda melihat saya terbakar panasnya mentari sore yang menyala-nyala—beserta ribuan rindu yang akan tumbuh kelak. Siapapun tahu, bagian yang paling menyedihkan adalah ketika ditinggalkan dengan alasan harus melupakan. Ketika hari berganti dan matahari akan kembali terbenam, tapi saya sudah tak lagi mendapati Anda ter...

Terbenam

Untuk teman saya yang merindukan seseorang. _____________ Melihat api bekerja. - Aan Mansyur. Ia membuka sebuah buku yang ada di genggamannya, lalu membacanya. Tapi, sejurus kemudian, ia menutupnya kembali. Mengulang satu kalimat awal pada subjudul dalam buku itu. Seakan melakukan instingnya, lalu memori memutar semuanya, kebahagiaan dahulu yang ia harapkan tidak akan pernah berlalu. Yang sempat disematkan kepadanya, dari seseorang yang belum berlalu. Memang. Seharusnya, bumi tidak memiliki banyak bulan. ( Menenangkan Rindu.- Aan Mansyur). Ia tersenyum lesu. Penegasan ulang kalimat itu terdengar begitu lirih. Lalu, perlahan ia bangkit dan pergi. Sekarang, ia sudah berada di sebuah danau, seolah tubuhnya mengerti bahwa yang ia inginkan saat ini adalah di sini. "Sedang apa?" Ia menoleh, mendapati seseorang di depannya menatap dengan perasaan setengah merindu. Ia mengabaikannya. "Sedang apa?" lelaki itu bertanya untuk kali keduanya. Namun, ia...

Terima Kasih

Untuk teman saya yang masih mengingat secuil kisah masa lalu. _______________ "Beri tahu aku bagian persahabatan mana yang murni tanpa rasa?" Hanya kalimat itu yang masih bersemayam di dalam kepalanya. Bagian otak mana yang masih memberikan celah untuk mengingat kalimat itu, ia tak pernah tahu. Seakan logika dan perasaan telah membentuk satu garis dari titik keduanya. Ia tak pernah mengerti. Untuk kali ini, keduanya bersatu. Antara logika dan perasaan. Mengatakan 'tidak ada' mungkin adalah jawaban yang tepat dari kalimat itu. Seseorang mendekat pada sebuah labirin, di sana sudah ada seseorang yang lain, yang menunggunya sejak dua jam lalu. Matahari sudah terlalu lelah menunjukkan senyumnya, seketika temaram. Seolah hanya ia yang masih setia pada seseorang itu. Hingga menunggu dua jam lamanya.  Beberapa detik kemudian, mereka berdampingan. Tidak ada yang berani membuka percakapan. Setidaknya dia yang harus membuka percakapan dahulu, meminta maaf mungkin...

Cuaca Hari Ini

Beberapa bulan yang lalu, saya mendapati diri saya, dan baru menyadari bahwa ada sepotong hati yang telah dicuri dari saya. Saya tidak tahu siapa pencurinya, tapi saya akan membiarkannya sampai ia mengembalikannya ke tempat semula. Kepada saya. Rintik hujan di luar sepertinya rindu membasahi tanah bumi. Lalu tumbuhanpun mau tak mau harus siap diselimuti oleh bulir-bulir hujan nanti. Siapapun akan menginginkan secangkir cappucino panas dicampur dengan sedikit lelehan coklat di atasnya. Begitulah persiapan saya terhadap ramalan cuaca hari ini. Tak sedikit awan-awan langit yang bercorak hitam. Kemudian sesekali, suara petir menyambar-nyambar. Biasanya, setiap menjelang petang, burung-burung mengharuskan suara kicaunya didengar orang lain. Apalagi angin. Untuk hari inipun dia tak memberi kado kesejukan apapun. Sekadar menyapa rasanya enggan. Jika dengan senja seperti ini, lalu bagaimana untuk malam nanti? Akankah malam mempersiapkan pertunjukkan indah untuk fajar di esok hari? Ra...

Rembulan, Kembalillah...

Entah apa yang saya pikirkan. Tiba-tiba logika dipaksa pergi, entah butuh berapa jarak untuk melangkah, tidak tahu kapan kembali, hanya mengikuti arah. Rembulan di atas, tersenyum kepada saya. Andai disebelahnya bersama bintang. Tapi tidak apa, tetaplah seperti itu. Rembulan di atas, tetap menatap lekat tingkah saya, menghitung berapa lama saya mematung. Bersama rembulan.. Apa kabar Anda di sana? Apakah sedang ditemani rembulan juga? Atau Anda sedang membangunkan bintang dari peraduannya, agar rembulan tidak mengambil saya dari Anda. Haha. Mana mungkin. Sudah tiga tahun rasanya kita tidak pernah lagi bertegur sapa, setelah Anda memberitahu hal yang membuat ruang oksigen saya tercekat. Anda mencuri oksigen-oksigen saya. Anda mengembalikan keadaan seperti semula. Anda yang selalu menghabiskan sepotong roti di pagi hari, tapi Anda tidak pernah mencerna dan merasa roti apa yang selalu Anda makan. Anda memang berbicara apa adanya, lantas apakah Anda memikirkan ada apa denga...

Pelupuk Mata Terberat

Nyala-nyala api berusaha menjamah benda sekitar. Secarik foto usang dan rapuh, hampir saja jatuh pada pelukannya. Angin-angin menjadi pembisik sekaligus penghibur senja yang melengkapi rindu terakhir kali di sini. Di ladang luas, di atas rumput-rumput yang kembali tumbuh hijau. Pelupuk mata seakan tidak sanggup membendung debit air bah, yang kemudian menerobos tulang pipi dan menggantung pada dagu. Kepada Anda yang tak melulu memberikan luka, tapi selalu menitipkan rasa sakit yang terus membuka.  Saya pernah benar-benar jadi seseorang yang tak cermat melihat tingkah laku seseorang. Seakan tidak ada yang berbeda. Menjadi buku yang belum habis saya baca adalah Anda. Keinginan terbesar adalah saya tidak ingin habis membaca buku itu. Saya ingin terus membaca buku. Membaca buku. Buku itu adalah Anda. Anda. Untuk Anda yang menyimpan rasa kopi dalam secangkir teh. Yang memberi rasa baru pada bibir cangkir . Sudut mata saya tidak pernah salah melirik ketika Anda menjadi...

Kalut

Gambar
Adalah dahulu Logika tak mampu tembus penjuru Hanya dalam diam, tak berlagu Bergeming, tergiring pada malam sendu Terbelenggu Oleh waktu Setiap satu jam, arlogi seolah-olah lelah Tak mengertikah bagaimana geram? Setiap satu menit, bulan pancarkan jelitanya Ini terasa kian rumit Setiap satu detik, gemintang sorotkan kerlipnya Dalam nuansa abu, aku tercekik Adalah ketika bercerita pada rembulan Tertangkap potret langit, di sana awan bergerak pelan Dedaunan pun ikut bergoyang Dikatakannya, ada yang datang Seseorang yang belum hilang Adalah ketika harap kembalikan setumpuk rindu Padahal waktu tak izinkan bertemu Seperti ombak yang menghapus jejak seorang perindu Lalu, aku memilih untuk selalu merapal namamu Tak jemu-jemu Adalah berada di tengah gulita Sajakpun bisu di antara gempita Bisikkan kesal terdahulu Hati teriris, habis terkikis Tapi, waktu tetap terlukis ———— Sebuah persembahan film pendek dari kami Peserta FLS2N Kontingen Banten. Judul: Ka...