Postingan

Bangkit dari Sakit

Tega ketika purnama hanya muncul seorang diri Tanpa bintang-bintang menemani Enyah saja malam! Pekat hitam langit hanya sediakan sunyi Coraknya pun sepi Rupanya seperti mati Kemana lagi angin pergi Akankah mereka kembali? Desau parau angin pun tak terdengar Tampias hujan malah menampar keras Rasanya gontai untuk berjalan Biar saja tenggelam Di bawah purnama kelam Terlalu jengah merombak remah-remahan hati Waktu pun ternyata hanya sebatas ilusi Berharap usir emosi Tapi asa tetap menyertai Perlahan mereka kembali Bantu bangun sebuah pondasi Sekali lagi, Bersediakah mereka terus menemani?

Hanya Bercerita

Hai, apa kabar Blogger? Kiranya hampir sepertiga tahun saya tidak mengunjungi blog saya sendiri. Tentu ada rasa rindu abu yang entah kemana, perlahan hambur lalu kabur. Saya juga sangat rindu menulis di sini. Saya rindu meramu kata. Pun rindu bergelut dengan ribuan kata kusut, lalu terhubung menjadi kalimat-kalimat lembut—yang awalnya membuat saya kalut. Apa kabar? Semuanya tidak ada yang berbeda, ya. Saya tetap saja menyukai dunia ini. Dunia yang menyediakan ruang dan tempat untuk saya. Duniapun  tidak tahu saya akan apa—menjadi apa.  Saya ingin sedikit bercerita. Tigaratus limapuluh enam hari bukan waktu singkat. Memang awalnya saya tidak tahu harus apa. Macam resolusi dan planning tidak akan menjamin—terkecuali dengan usaha dan doa.  Sebuah novel adalah resolusi yang luar biasa untuk saya. Saya usahakan setiap hari untuk menulis satu kalimat dalam buku. Saya berkeliling dunia lewat kata—membaca buku. Saya berhasil. Satu minggu menulis, tidak a...

Untuk Apa Kembali?

Manusia itu kembali lagi. Menjadi sesosok manusia yang lebih menyebalkan! Tidak tau harus apa. Senang, sedih atau tidak sama sekali.  Untuk apa dia kembali? Kalau ujung-ujungnya dia hanya meminjamkan sepasang sayap yang belum pernah benar-benar jadi milikku. Lalu, ketika dia butuh sayap itu, diambillah semuanya. Sepasang sayap putih, yang ketika kumemakainya aku benar-benar merasa seperti bidadari. Tapi, kemudian jatuh, karena sayap itu memang tidak bisa membawaku menuju ke atas tebing itu. Ha-ti-mu. Sayap yang memang hanya Tuhan yang tau siapa pemilik sebenarnya. Kau sendiri pun tak tahu.

Bangun!

Malam yang mengingatkanku pada sepucuk surat merah jambu darimu. Sebelumnya aku ucapkan selamat untukmu, untuk dia juga, perempuan yang membuatmu berhasil untuk menatap lekat matanya, berhasil membungkus ketakutan-ketakutan dan kekhawatiran soal perasaan yang belum pernah kau rasa. Dia berhasil. Berhasil membuat pintu itu terbuka, berhasil menyembur debu-debu di sudut hatimu. Tak sepertiku, yang hanya berhasil menjadi perempuan yang hanya menunggu waktu. Seperti dulu. Tidak tahu kenapa rasanya tangan sangat ringan menulis semua ini, pikiranpun berjalan mundur kembali, ke masa itu.  Singkat saja, memang sudah berlalu. Tidak pernah menyangka akhirnya memang tidak seperti yang kuharapkan. Tidak tahu salah dibagian mana. Entah perasaan yang memang belum berpihak untukku, atau bahkan waktu yang menjedakannya, supaya kita bertemu di masa-masa saat kau dan aku sudah benar-benar dewasa. Jadi tak usah payah kau takut dan terbungkus dalam diam, dan aku tak jengah berdiri men...

Harus Kusebut Apa

Awalnya hanya sebuah rasa yang tak pernah larut dalam pikiran. Seketika semua berubah.  Rindu terdahulu telah mangkat dan kini sudah tandus. Aroma rasa hati sudah kadaluwarsa. Tak layak dibiarkan. Bahkan kepercayaan sudah pecah saat pola kejujuran yang kurancang setengah mati, tak sengaja kautumpahkan 'kopi' di atasnya.  Beritahu aku, tentang apa ini. Supaya tidak lagi terjebak dalam hal yang entah disebut apa.

Toleransi

Siang yang amat terik dengan pola pantulan sinar matahari yang tersebar merata. Rasa dahaga mulai menggelayuti tenggorokan, ditambah nuansa perlombaan yang semakin ketat. Perlombaan voli antara dua kelas yang tak kunjung usai tak menyurutkan semangat mereka, pemain dan supporter. "Semangaaaat, kalian pasti bisa dan kita akan menang!!! Yeee!!!!" jerit seorang murid kelas XII dari sudut lapangan. Pertandingan yang bisa disebut 'sengit' adalah pertandingan antara kelas XI dan XII, sekaligus terakhir di sekolah bagi kelas XII sebelum mereka memasuki semester II. Pukul 12:03 WIB dan sudah tiga puluh menit pertandingan berlangsung, sementara papan skor belum berakhir di angka 25 "Allahuakbar,Allahuakbar...Allahuakbar, Allahuakbar." Musik terindah mulai dilantunkan Sang Muadzin. "Alhamdulillah, Sami'na Wa Atho'na," ujar murid laki-laki yang langsung segera menuju masjid dan tak menghiraukan perlombaan yang tak kunjung usai. "Mau ke m...

Rindu

Di antara ribuan kemelut rintik hujan, jari-jari ini belum mampu mendeskripsikan sebuah rindu. Rindu yang menjelma. Mengenyahkan segala. Aku tidak tahu asal mulanya bagaimana, dimana, kapan, dan mengapa. Yang kutahu adalah dengan siapa. Di suatu sudut ruangan yang tidak pernah seorangpun mengetahuinya, aku merasakan ada sebuah kehangatan. Kehangatan saat hujan melebat, bersama secangkir kopi dan sepotong roti coklat. Sesederhana itu. Seorang diri. Sedang apa, kau? Aku termangu di sini, menanti hujan reda supaya ia tak lagi menyuguhkan sebuah keharuman tanah yang malah membuat ruang oksigenku tersekat. Aku tidak bernapas seleluasa itu. Sedang apa, kau? Hujan masih tak kunjung reda, sementara di sudut ruang ini laba-laba sudah membuat rumah barunya. Sedang apa, kau?  Hujan masih menderas, memainkan alunan rindu yang frekuensinya tak bisa kudeskripsikan berapa Hertz. Tak akan pernah didengar, kecuali kepekaanmu yang dalam. Tapi, tidak. Sedang apa, ...

Rekaman Lampau

Pigura besar berukuran 40 x 50 cm yang  berlatarbelakang wajah seseorang, menjadi tontonan dari puluhan mata memandang. Di sebuah gedung berkelas bintang lima, dengan kemerlip lampu-lampunya menjadi kunjungan utama para pemuda-pemudi berbakat. Seperti menulis, ber-fotografi, ber-drama, bernyanyi dan melukis. Tidak ada penyekatan ruang antar-ikon yang diselenggarakan, sehingga semua sibuk menata tatapan dan fokusnya masing-masing. Bentuk wajah bundar, dengan bulu mata lentik, pipi merah merona dan dimahkotai rambut hitam panjang yang tergerai indah, sangat jelas tersimpul dalam pigura. Sepasang bola mataku lebih tertarik melihat sebuah lukisan ini. Lukisan yang dipoles dengan apik. Penuh warna. Sungguh anak muda dengan talenta hebat. Selain tersimpul wajah seorang perempuan, sebuah deretan abjad juga mengisi ruang kosong di sudut pigura.  "Ketika tidak ada lagi jeda untuk senja hadir menjinggakan mega, aku hadir dalam ruang yang terbias oleh mendung. Sendiri." - Jingg...

Setelah Ada

Dari sudut ruangan, ditemani segelas teh hangat dengan aromanya yang memutarbalikkan kenangan terdahulu, aku ucapkan selamat pagi. "Selamat pagi." Fajar kali ini tidak begitu indah. Hangat Si Kuning Telur yang membulat tidak meyebar rindu yang merata di Bumi. Setengah hangatnya sedang digantikan oleh Si Pengeroyok Tanah di Bumi. Hujan. Tapi, tetap saja, pagi ini begitu sendu. Apalagi, aroma tanah yang tak permisi meyerobot penciumanku. Bulir air hujan turun melewati jendela dan uapnya menembus kaca yang menambah kesejukan. Hujan begitu deras sampai embunnya menutupi arah luar jendela. Sudah kubilang, hari ini sangat sejuk. Tidak perlu kupertegas. Harusnya kamu mengetahui itu. Kita sama-sama berada di posisi yang jaraknya tidak sampai berpuluh-puluh kilo meter, bukan?  Bola mataku menangkap sebuah siluet terdahulu dalam pigura cokelat indah berlatarbelakang senja dengan guratan semburat merahnya. Ya, indah, tapi, terdahulu. Seharusnya kita sedang menikmati fajar, ...

Tapak dalam Senja

Hari ini bersama jingganya senja aku menatap mega. Begitu sendu. Ditemani riuh angin yang berlalu-lalang tak permisi―mengajakku untuk pergi ke suatu tempat yang telah dihuni seorang lelaki yang seperti kukenal sosoknya. Entah siapa. Aku tidak tertarik apalagi menggubrisnya. Merobek kertas lalu meniupnya adalah hal yang menarik bagiku. Itulah sebabnya, aku tidak suka suasana ramai. Di sini hening dan aku suka itu. Jenuh mulai menyapaku ketika sorot sinarnya sudah mulai mengelabu. Tentu saja, matahari telah menenggelamkan setengah tubuhnya kepada peraduannya. Yang tersisa, hanya aku bersama setumpuk kertas dalam binder serta ballpoin dan secarik foto ibu ― juga sesosok manusia itu. Ibu. Ya, tokoh sederhana yang nyaris sempurna. Begitulah aku menyebutnya. Wanita paruh baya dengan kebaya yang melenggang ditubuhnya. Sangat cantik. Ya, berunjuk gigi adalah gaya andalannya dalam berfoto. Tergores senyum yang begitu anggun dalam pigura cokelat berukir bunga nan indah bersama kenangan yan...